Logo RANAH PEMAHAMAN
🔍 ☰
📖 LANJUTKAN MEMBACA
Judul Cerita...
Lanjut Baca >

KISAH RAWA METANG: PENDEKAR BELATI TATUNGKUL

🔥 Dibaca: 12.5K kali • ⭐ Rating: 5.0

"Kau anak yang luar biasa," bisik Warka Palunglas malam itu, menyelimuti sang bayi dengan jubahnya yang hangat. "Kau hanyut di aliran Brantas yang mengamuk, namun matamu setenang rawa yang menyimpan misteri mendalam. Mulai hari ini, aku akan memanggilmu Rawa. Rawa Metang. Aku yang akan menjadi gurumu, melindungimu, dan mengajarimu cara bertahan hidup di dunia yang kejam ini."

Kilas balik bergeser. Tahun-tahun berlalu, Warka Palunglas membesarkan Rawa dengan penuh kasih sayang sekaligus disiplin yang keras. Warka menjadi guru pertama yang menempa fisik Rawa, mengajarinya dasar-dasar bela diri kasar, melatih otot-ototnya agar sekeras baja, dan menanamkan sifat waspada dalam setiap keadaan. Bagi Rawa, Warka bukan sekadar guru, melainkan sosok ayah kandung yang tidak pernah dia miliki.

Namun, kedamaian itu hancur berantakan dalam satu malam berdarah beberapa tahun lalu. 

Malam itu, Rawa yang baru saja kembali dari berburu di dalam hutan berjalan riang menuju gubuk mereka. Langkah kaki kasarnya mendadak terhenti di ambang pintu. Bau amis darah yang sangat pekat menusuk hidungnya. Firasat buruk langsung mencengkeram dadanya. Dengan jantung yang berpacu cepat, Rawa mendorong pintu gubuk.

Pemandangan di depannya membuat dunia Rawa serasa runtuh. Di tengah ruangan, Warka Palunglas terbujur kaku di atas tanah dengan luka menganga di dadanya akibat tebasan senjata tajam. Darah segar masih mengalir membasahi lantai tanah. Di samping jasad gurunya, terdapat sebuah coretan darah berbentuk patahan tulang rusuk—lambang dari organisasi hitam yang paling ditakuti, Rusuk Balilung. Mereka membantai Warka karena sang guru menolak membocorkan keberadaan Belati Tatungkul yang selama ini disembunyikan dengan rapi.

"Guru...!" jerit Rawa tertahan, berlutut dan memeluk tubuh kaku Warka dengan rasa penyesalan dan kepedihan yang teramat dalam. Kematian tragis Warka Palunglas malam itu menanamkan trauma mendalam sekaligus dendam kesumat yang mengakar di jiwa Rawa. Kejadian itu mengubah Rawa menjadi pemuda yang super berhati-hati, dingin, dan selalu fokus untuk menuntut balas.

Setelah kematian Warka, Rawa yang sebatang kara kemudian diselamatkan dan dibimbing oleh Mbah Bulus Rambat, guru keduanya yang berambut putih panjang di hilir sungai. Mbah Bulus-lah yang kemudian melatih Rawa untuk mengendalikan getaran mistis dan tenaga dalam murni yang tersembunyi di dalam Belati Ular Tatungkul, menyempurnakan ilmu silat kasar yang dulu diajarkan oleh Warka.

Kilas balik berakhir. Rawa Metang mengembuskan napas panjang, membuyarkan seluruh ingatan masa lalunya. Pendaran hijau di Belati Tatungkul di pangkuannya kian menajam, seolah ikut merasakan amarah yang tertahan di balik dada kirinya yang memiliki parut luka panjang. 

Sifat fokusnya kembali terkunci. Kemarin, sebelum Rawa berangkat, Mbah Bulus Rambat telah memberikan petunjuk krusial. Organisasi Rusuk Balilung dan sekte hitam Hama Metak dikabarkan sedang memusatkan kekuatan mereka di Pulau Sumbawa, tepat di sekitar lereng Gunung Tambora. Lebih mengejutkan lagi, beredar desas-desus bahwa Kahinda Ayurisi—gadis kecil teman masa lalu Rawa yang dulu diculik saat desanya dibakar—berada di sana, dijadikan tawanan atau wadah mistis oleh mereka.

"Utang darah harus dibayar darah, Guru Warka," ucap Rawa dengan nada suara yang sangat rendah, dingin, namun bergetar oleh tekad yang membara. "Rusuk Balilung telah merebut kehidupanmu. Mereka juga menawan Kahinda. Aku bersumpah demi langit dan bumi, belati Tatungkul ini yang akan mencabut nyawa mereka satu per satu."

Rawa berdiri, menyarungkan belati ularnya ke pinggang dengan gerakan anggun tanpa suara. Dia mengambil jubah cokelat lusuhnya, memakainya untuk menutupi rompi batiknya yang robek, lalu melangkah tegap keluar menembus derasnya hujan malam di hilir Brantas. Langkah kakinya mantap dan penuh perhitungan, bergerak lurus menuju pelabuhan dagang di ujung pesisir. Tujuan kompas hidupnya kini sudah pasti: Pulau Sumbawa di arah timur. Petualangan besar sang Pendekar Belati Tatungkul resmi dimulai dengan api dendam yang menyala di dadanya.
📜 DAFTAR BAB Urutkan Bab
⏳ Memuat bab...
💬 DISKUSI PEMBACA

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah berkunjung