Skip to main content

KISAH RAWA METANG: PENDEKAR BELATI TATUNGKUL

==================================================================
KISAH RAWA METANG: PENDEKAR BELATI TATUNGKUL
Volume 1 (Bab 1, 2, dan 3)
Standardisasi: Minimal 1.000 Kata per Bab
==================================================================

### BAB 1: Bayang-Bayang dari Masa Lalu (1.100 Kata)

Hujan lebat mengguyur wilayah hilir Sungai Brantas, membawa aroma tanah basah yang pekat berselimut hawa dingin malam. Di dalam sebuah gubuk tua yang berdiri reyot di pinggiran sungai, suara derit kayu beradu dengan gemuruh petir yang bersahutan di langit Jawa Timur. Di sinilah, di bawah temaram nyala lampu minyak yang bergoyang ditiup angin, seorang pemuda duduk bersila dengan tatapan mata yang fokus dan tajam. Pemuda itu adalah Rawa Metang.

Tangan kanan Rawa yang kokoh perlahan mengelus permukaan Belati Ular Tatungkul yang terletak di atas pangkuannya. Bilah belati berlekuk dengan pamor hijau tua itu tampak memantulkan pendaran cahaya redup, seolah ikut merasakan gejolak batin yang sedang dialami pemiliknya. Sifat dasar Rawa yang selalu berhati-hati membuat setiap tarikan napasnya mengalir teratur, menyelaraskan tenaga dalam murninya dengan keheningan malam. Namun malam ini, gemuruh di luar sana kalah hebat dengan gemuruh ingatan masa lalu yang mendadak bangkit di kepalanya.

Matanya yang hitam legam menatap lurus ke arah sudut gubuk yang kosong, tempat di mana dulu sebuah keranjang bambu tua pernah diletakkan. Pikiran Rawa melayang, melintasi waktu kembali ke tiga puluh tahun yang lalu, ke sebuah kisah awal mula takdirnya yang diceritakan oleh orang yang paling dia hormati di dunia ini.

Kilas balik dimulai. Saat itu, Sungai Brantas sedang mengamuk hebat akibat banjir bandang di hulu. Airnya yang keruh bergulung-gulung membawa bongkahan kayu dan batu-batu besar. Di tepi sungai yang berarus liar tersebut, seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan pakaian pendekar yang bersahaja sedang berdiri memantau keadaan. Pria itu adalah Warka Palunglas, seorang pendekar pengembara yang memilih mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia persilatan.

Mata Warka yang tajam menangkap sesuatu yang aneh terombang-ambing di tengah pusaran air. Sebuah keranjang bambu besar yang terikat erat oleh jalinan kain sutra hitam. Tanpa pikir panjang, Warka melompat membelah arus sungai yang mematikan, mengerahkan tenaga dalamnya untuk meraih keranjang tersebut sebelum hancur menghantam batu cadas.

Ketika Warka membawa keranjang itu ke daratan dan membukanya, jantungnya berdegup kencang. Di dalam keranjang, seorang bayi laki-laki berkulit sawo matang bersih sedang menatapnya tanpa rasa takut sedikit pun. Bayi itu tidak menangis sama sekali, meskipun tubuhnya basah dan nyaris merenggang nyawa di dalam gulungan sungai. Di samping tubuh mungil sang bayi, tergeletak sebilah belati berbentuk ular yang memancarkan aura hijau mistis—Belati Ular Tatungkul.






"Kau anak yang luar biasa," bisik Warka Palunglas malam itu, menyelimuti sang bayi dengan jubahnya yang hangat. "Kau hanyut di aliran Brantas yang mengamuk, namun matamu setenang rawa yang menyimpan misteri mendalam. Mulai hari ini, aku akan memanggilmu Rawa. Rawa Metang. Aku yang akan menjadi gurumu, melindungimu, dan mengajarimu cara bertahan hidup di dunia yang kejam ini."

Kilas balik bergeser. Tahun-tahun berlalu, Warka Palunglas membesarkan Rawa dengan penuh kasih sayang sekaligus disiplin yang keras. Warka menjadi guru pertama yang menempa fisik Rawa, mengajarinya dasar-dasar bela diri kasar, melatih otot-ototnya agar sekeras baja, dan menanamkan sifat waspada dalam setiap keadaan. Bagi Rawa, Warka bukan sekadar guru, melainkan sosok ayah kandung yang tidak pernah dia miliki.

Namun, kedamaian itu hancur berantakan dalam satu malam berdarah beberapa tahun lalu. 

Malam itu, Rawa yang baru saja kembali dari berburu di dalam hutan berjalan riang menuju gubuk mereka. Langkah kaki kasarnya mendadak terhenti di ambang pintu. Bau amis darah yang sangat pekat menusuk hidungnya. Firasat buruk langsung mencengkeram dadanya. Dengan jantung yang berpacu cepat, Rawa mendorong pintu gubuk.

Pemandangan di depannya membuat dunia Rawa serasa runtuh. Di tengah ruangan, Warka Palunglas terbujur kaku di atas tanah dengan luka menganga di dadanya akibat tebasan senjata tajam. Darah segar masih mengalir membasahi lantai tanah. Di samping jasad gurunya, terdapat sebuah coretan darah berbentuk patahan tulang rusuk—lambang dari organisasi hitam yang paling ditakuti, Rusuk Balilung. Mereka membantai Warka karena sang guru menolak membocorkan keberadaan Belati Tatungkul yang selama ini disembunyikan dengan rapi.

"Guru...!" jerit Rawa tertahan, berlutut dan memeluk tubuh kaku Warka dengan rasa penyesalan dan kepedihan yang teramat dalam. Kematian tragis Warka Palunglas malam itu menanamkan trauma mendalam sekaligus dendam kesumat yang mengakar di jiwa Rawa. Kejadian itu mengubah Rawa menjadi pemuda yang super berhati-hati, dingin, dan selalu fokus untuk menuntut balas.

Setelah kematian Warka, Rawa yang sebatang kara kemudian diselamatkan dan dibimbing oleh Mbah Bulus Rambat, guru keduanya yang berambut putih panjang di hilir sungai. Mbah Bulus-lah yang kemudian melatih Rawa untuk mengendalikan getaran mistis dan tenaga dalam murni yang tersembunyi di dalam Belati Ular Tatungkul, menyempurnakan ilmu silat kasar yang dulu diajarkan oleh Warka.

Kilas balik berakhir. Rawa Metang mengembuskan napas panjang, membuyarkan seluruh ingatan masa lalunya. Pendaran hijau di Belati Tatungkul di pangkuannya kian menajam, seolah ikut merasakan amarah yang tertahan di balik dada kirinya yang memiliki parut luka panjang. 

Sifat fokusnya kembali terkunci. Kemarin, sebelum Rawa berangkat, Mbah Bulus Rambat telah memberikan petunjuk krusial. Organisasi Rusuk Balilung dan sekte hitam Hama Metak dikabarkan sedang memusatkan kekuatan mereka di Pulau Sumbawa, tepat di sekitar lereng Gunung Tambora. Lebih mengejutkan lagi, beredar desas-desus bahwa Kahinda Ayurisi—gadis kecil teman masa lalu Rawa yang dulu diculik saat desanya dibakar—berada di sana, dijadikan tawanan atau wadah mistis oleh mereka.

"Utang darah harus dibayar darah, Guru Warka," ucap Rawa dengan nada suara yang sangat rendah, dingin, namun bergetar oleh tekad yang membara. "Rusuk Balilung telah merebut kehidupanmu. Mereka juga menawan Kahinda. Aku bersumpah demi langit dan bumi, belati Tatungkul ini yang akan mencabut nyawa mereka satu per satu."

Rawa berdiri, menyarungkan belati ularnya ke pinggang dengan gerakan anggun tanpa suara. Dia mengambil jubah cokelat lusuhnya, memakainya untuk menutupi rompi batiknya yang robek, lalu melangkah tegap keluar menembus derasnya hujan malam di hilir Brantas. Langkah kakinya mantap dan penuh perhitungan, bergerak lurus menuju pelabuhan dagang di ujung pesisir. Tujuan kompas hidupnya kini sudah pasti: Pulau Sumbawa di arah timur. Petualangan besar sang Pendekar Belati Tatungkul resmi dimulai dengan api dendam yang menyala di dadanya.

---

### BAB 2: Pertemuan di Pelabuhan Ujung Timur (1.080 Kata)

Bau asin garam bercampur dengan aroma minyak kayu manis dan keringat para kuli angkut menyambut kedatangan Rawa Metang di Pelabuhan Tanjung Perak. Tempat ini adalah urat nadi perdagangan yang menghubungkan Pulau Jawa dengan gugusan pulau-pulau di wilayah timur Nusantara. Ratusan kapal kayu berukuran raksasa bersandar di dermaga, mengepulkan asap dari cerobong kecil atau mengembangkan layar-layar besar mereka yang berwarna putih kusam.

Rawa berjalan di antara kerumunan orang dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Sifat dasarnya yang selalu berhati-hati membuat tangannya tidak pernah jauh dari gagang Belati Ular Tatungkul yang tersembunyi di balik jubah cokelat lusuhnya. Matanya yang fokus terus bergerak, memindai setiap wajah yang berpapasan dengannya—mulai dari pedagang asing dengan pakaian sutra mewah, hingga para pendekar bayaran yang membawa pedang besar di punggung mereka.

‘Terlalu banyak mata di tempat ini,’ batin Rawa waspada. ‘Aku harus segera menemukan kapal yang berlayar menuju Pulau Sumbawa sebelum mata-mata Rusuk Balilung mencium keberadaanku.’

Saat Rawa sedang berjalan menuju sebuah kedai tuak di pinggir dermaga untuk mencari informasi, perhatiannya mendadak teralih oleh keributan yang terjadi di dekat sebuah kapal dagang mewah yang berlabuh di ujung dermaga khusus. Kapal itu terlihat sangat megah, dengan ukiran naga perak di haluannya dan bendera sutra merah yang menandakan bahwa pemiliknya adalah keluarga bangsawan dari luar kerajaan lokal.

"Lepaskan aku! Dasar manusia-manusia kasar tidak tahu aturan!" sebuah suara melengking yang renyah namun penuh kemanjaan terdengar di antara riuh rendah suara kuli pelabuhan.

Rawa menghentikan langkahnya, berdiri di balik tumpukan karung gandum untuk mengamati situasi. Di depan tangga kapal mewah itu, tampak seorang gadis muda sedang dikerubungi oleh empat orang pria bertubuh kekar dengan pakaian serbahitam dan ikat kepala merah—ciri khas dari kelompok bandit lokal yang sering memeras pendatang di pelabuhan.

Gadis itu memiliki penampilan yang sangat mencolok dan kontras dengan lingkungan pelabuhan yang kotor. Tingginya sekitar 165 cm, bertubuh semampai dengan kulit putih bersih seperti pualam yang menandakan dia tidak pernah bekerja kasar di bawah terik matahari. Wajahnya sangat cantik jelita dengan gaya putri kerajaan asing, matanya bulat bersinar, dan bibirnya yang mungil saat ini sedang cemberut menahan amarah. Dia mengenakan gaun sutra mewah berwarna merah menyala, namun tubuhnya ditutupi oleh sebuah jubah cokelat lusuh yang tampaknya sengaja dia pakai untuk menyamar—meskipun penyamaran itu gagal total karena perhiasan emas yang mengintip di balik lehernya. Gadis itu adalah Putri Ayuhinda Malapa.

"Heh, Nona Manis! Berjalan sendirian di pelabuhan ini dengan pakaian semewah itu sama saja dengan mengantarkan daging segar ke sarang serigala," ejek pemimpin bandit yang bermata juling, sambil mencoba menyentuh dagu Ayuhinda. "Bayar uang keamanan sepuluh koin emas, atau kau harus ikut kami menginap di markas malam ini."

Ayuhinda memundurkan langkahnya, wajah manjanya berganti dengan ekspresi ketakutan namun dia tetap berusaha terlihat angkuh. "Jangan berani-berani menyentuhku dengan tangan kotor kalian! Jika pengawal kerajaan tahu, kepala kalian semua akan dipenggal!"

"Kerajaan? Kerajaanmu berada jauh di seberang lautan, Tuan Putri! Di sini, kamilah rajanya!" para bandit itu tertawa terbahak-bahak, mulai maju untuk meringkus Ayuhinda.

Rawa yang menyaksikan kejadian itu dari kejauhan awalnya tidak berniat untuk ikut campur. Sifat dasarnya yang selalu fokus pada misi balas dendam membuatnya enggan terlibat dalam urusan yang tidak ada hubungannya dengan Rusuk Balilung. ‘Bukan urusanku. Terlalu berisiko memancing perhatian di tempat terbuka seperti ini,’ pikir Rawa datar, berniat membalikkan badan.

Namun, saat Ayuhinda mencoba berontak, jubah cokelatnya tersingkap dan memperlihatkan sebuah cincin kuno dengan batu permata legam di jari manisnya—Cincin Pusaka Permata Kurum. Saat mata Rawa menangkap pendaran cahaya perak tipis yang keluar dari cincin tersebut, jantungnya berdegup kencang. Dia mengenali energi itu. Itu adalah energi ruang dimensi tingkat tinggi, sejenis pusaka langka yang pernah diceritakan oleh Mbah Bulus Rambat dalam salah satu pelajarannya.

‘Cincin itu... bukan barang sembarangan. Dan gadis itu... dia memiliki hubungan dengan pusaka kuno timur,’ batin Rawa berubah pikiran. Fokusnya mendadak bergeser. Menyelamatkan gadis ini mungkin bisa menjadi jalan baginya untuk mendapatkan tumpangan kapal atau petunjuk menuju wilayah timur tanpa terdeteksi.

Dengan langkah kaki yang tanpa suara, Rawa Metang meluncur keluar dari balik tumpukan karung. Gerakannya sangat cepat dan efisien, seperti bayangan yang melintas di sela-sela kesibukan pelabuhan. Sebelum para bandit itu sempat menyentuh seujung kuku Putri Ayuhinda, sebuah sosok tegap berjubah cokelat sudah berdiri tegak di depan sang putri, menghalangi pandangan para penyerang.

"Siapa kau, bajingan lusuh? Jangan sok pahlawan kalau masih sayang nyawa!" gertak pemimpin bandit, terkejut melihat kedatangan Rawa yang tiba-tiba.

Rawa tidak menjawab. Matanya tetap fokus, memindai jarak dan posisi berdiri keempat musuhnya dengan perhitungan matematis yang dingin. Tangan kanannya masih diam di samping tubuhnya, namun hawa murni dari dalam ulu hatinya sudah mulai dialirkan menuju pergelangan tangan, siap diledakkan kapan saja.

"Pergilah sebelum aku kehilangan kesabaran," ucap Rawa dengan nada suara yang sangat datar dan tenang, namun mengandung tekanan tenaga dalam yang membuat bulu kuduk para bandit itu meremidang seketika. Pertemuran pertama di luar tanah kelahiran sudah berada di depan mata Rawa Metang.

---

### BAB 3: Kilatan Belati di Dermaga (1.050 Kata)

Mendengar ancaman dingin dari pemuda berjubah lusuh di depan mereka, keempat bandit pelabuhan itu merasa terhina. Mereka adalah penguasa wilayah dermaga timur yang biasa ditakuti oleh para pedagang, dan sekarang seorang gelandangan berani menantang mereka dengan wajah tanpa ekspresi.

"Mati kau, bocah tengik!" teriak bandit bertubuh paling besar sambil mencabut sebuah golok panjang yang berkarat namun terlihat sangat tajam. Dia mengayunkan goloknya dari atas ke bawah, mengincar bahu kanan Rawa dengan kekuatan penuh.

Putri Ayuhinda yang berdiri tepat di belakang Rawa langsung menjerit panik, menutup matanya dengan kedua tangan. "Awas! Dia bawa senjata!"

Rawa Metang sama sekali tidak bergeming dari posisinya. Sifat berhati-hatinya membuat dia tidak melakukan gerakan menghindar yang berlebihan. Tepat saat mata golok itu berada satu jengkal dari kepalanya, Rawa menggeser kaki kanannya setengah langkah ke samping—sebuah gerakan minimalis namun sangat akurat yang membuat ayunan golok musuh hanya menebas angin kosong di samping telinganya.

Menggunakan momentum kegagalan musuh, tangan kiri Rawa melesat maju dengan kecepatan kilat. Dengan jari-jari yang ditutupi tenaga dalam murni, Rawa melakukan totokan keras tepat di urat nadi pergelangan tangan sang bandit besar.

TAK!

"AAAGHH!" golok besar itu langsung terlepas dari genggaman dan jatuh berdentang di atas papan kayu dermaga. Bandit itu memegangi pergelangan tangan kasarnya yang mendadak mati rasa dan lumpuh total akibat totokan saraf yang presisi dari Rawa.

Melihat satu rekannya dilumpuhkan dalam satu gerakan tanpa senjata, tiga bandit lainnya menjadi gelap mata. Mereka maju bersamaan dari tiga arah berbeda—dua menyerang dari sisi samping dengan belati panjang, sementara sang pemimpin mencoba menerjang dari depan untuk mengunci tubuh Rawa.

‘Tiga pergerakan, sudut serang tiga puluh derajat, kecepatan sedang,’ batin Rawa, otaknya yang selalu fokus memindai lintasan serangan musuh dalam hitungan mikrodetik.

Kali ini, Rawa tidak ingin membuang waktu lebih lama karena kerumunan orang di pelabuhan mulai berkumpul untuk menonton. Tangan kanannya bergerak ke pinggang, dan dengan satu sentakan halus, Belati Ular Tatungkul dicabut dari sarungnya.

Sreeet!

Cahaya hijau tua berpendar terang di udara siang hari yang terik, memotong kepulan debu pelabuhan dengan estetika yang mematikan. Rawa memutar tubuhnya seperti pusaran air yang tenang namun menghancurkan. Menggunakan teknik dasar gerakan meliuk ular, Rawa melewati sela-sela serangan dua bandit di sampingnya tanpa tersentuh sedikit pun.

TING! TING!

Dua bilah belati musuh patah menjadi dua bagian setelah berbenturan dengan pamor hijau suci Belati Tatungkul. Tak berhenti sampai di situ, gerakan lanjutan dari tebasan Rawa secara akurat menyayat tali celana dan ikat pinggang kedua bandit tersebut, membuat celana mereka melorot ke bawah dalam sekejap.

"Eh? Celanaku!" kedua bandit itu langsung panik dan kehilangan keseimbangan, jatuh terjungkal ke belakang sambil berusaha menutupi bagian bawah tubuh mereka karena malu ditertawakan oleh para kuli pelabuhan yang menonton.

Kini tinggal sang pemimpin bandit yang treats. Melihat semua anak buahnya tumbang dengan cara yang sangat memalukan dan aneh, nyalinya langsung ciut setengah mati. Dia menghentikan terjangan kakinya, tubuhnya bergetar hebat saat menatap sepasang mata sawo matang milik Rawa yang dingin tanpa emosi, ditambah pendaran hijau mistis dari belati ular yang kini mengarah tepat ke tenggorokannya.

"Ap... Apa-apaan ilmu silat ini? Kau... kau monster dari mana?" bisik sang pemimpin dengan wajah pucat pasi, perlahan mengangkat kedua tangan kasarnya sebagai tanda menyerah.

Rawa tidak menjawab pertanyaan itu. Dia menurunkan belatinya dengan gerakan anggun, lalu memasukkannya kembali ke dalam sarung tersembunyi tanpa menimbulkan suara sedikit pun. "Bawa teman-temanmu dan pergi dari hadapanku dalam tiga hitungan. Jika aku melihat wajah kalian lagi di dermaga ini, belatiku tidak akan menyayat kain celana kalian lagi."

"Ba... baik, Tuan! Baik!" sang pemimpin bandit buru-buru memapah temannya yang lengannya lumpuh, sementara dua lainnya berlari terbirit-birit sambil memegangi celana mereka yang melorot, menghilang di balik kerumunan gudang pelabuhan.

Suasana di depan kapal mewah itu mendadak menjadi hening. Rawa menarik jubah cokelatnya kembali untuk menutupi senjatanya, lalu membalikkan badan untuk menatap gadis yang baru saja dia selamatkan.

Putri Ayuhinda perlahan membuka matanya, menatap Rawa dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan pandangan yang campur aduk—antara takjub karena kehebatan silat pemuda ini, dongkol karena sikapnya yang sangat cuek, dan sedikit rasa gengsi sebagai seorang putri bangsawan.

"Wah... kamu hebat juga ya untuk ukuran orang yang penampilannya sekadar jubah robek begini," ucap Ayuhinda dengan nada manja andalannya, sambil berkacak pinggang dan mencoba merapikan gaun sutra merahnya yang sedikit kusut. "Kenalkan, namaku Putri Ayuhinda Malapa dari... eh, pokoknya aku seorang putri! Siapa namamu, Pendekar Lusuh?"

Rawa menatap wajah cantik Ayuhinda dengan pandangan datar tanpa ekspresi selama beberapa detik, membuat Ayuhinda salah tingkah. ‘Sifatnya manja, cerewet, dan sangat tidak berhati-hati. Benar-benar tipe manusia beban yang harus dihindari jika ingin fokus membalas dendam,’ dumel Rawa dalam hati yang paling dalam.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk membalas perkenalan itu, Rawa Metang langsung membalikkan badannya dan melangkah pergi meninggalkan Ayuhinda yang masih berdiri melongo di depan kapal dagangnya. Petualangan baru saja dimulai, dan Rawa sudah mendapati dirinya terikat dengan takdir si putri beban pembawa masalah.




Comments

Popular posts from this blog

EPISODE 2491-2699 GERALD CRAWFORD

 LELAKI YANG TAK TERLIHAT KAYA EPISODE 2491 - 2699 GERALD CRAWFORD BAB 2491. melihat banyak nya pasukan mayat , yang tak kunjung bisa di kalahkan walaupun sudah mengerahkan semua kemampuan baik gerald dan semua master kultivasi dan beberapa anak buah yang di bawa, menghadapi mereka semua seakan akan seperti menghadapi air, di pukul berapa kali pun bentuk nya akan selalu utuh apalagi pasukan dari mayat iblis tersebut, ketika di serang menggunakan teknik pedang cahaya makhluk berbetuk mayat ini akan kembali ke bentuk awalnya. Belum di ketahui kelemahan dan titik perapuhan dari semua prajurit mayat iblis yang telah menyerang gerald dan rombongan nya.  "Kalian semua Jangan alihkan pandangan kalian,tetap waspada dan jangan berpencar, lebih baik kita coba menyerang mereka dengan serangan ke satu arah!"berteriak nona Kimberly memerintahkan semua master kultivasi dan semua anak buah yang di bawa agar tetap dalam posisi bertahan.  Namun karena banyaknya prajurit mayat iblis yang t...

GERALD CRAWFORD 2901-3001 TAMAT

GERALD CRAWFORD EPISODE 2901-3000 THE END Log in Nascita Versi si tupai yang merokok  HALO SEMUA, APA KABAR NUNGGUIN YA? MASIH BERJALAN NIH KISAH SELANJUTNYA.  DAN SEMOGA YOUTUBE MENDENGAR VIDEO INI.  YUK SIMAK BARENG BARENG KISAH SELANJUTNYA.  DAN UNTUK KOMENTAR YANG BELUM DI BALAS NANTI SAYA BALES , HEHEH SALING BANTU LIKE YA :)  GERALD CRAWFORD EPISODE 2901-2905 SENSON AKHIR! ( 100 EPISODE LAGI)  EPISODE 2901 15 menit terakhir, di dalam pandora ball.  " burara! apa kamu menikmati, musim semi di dalam pandora ball?. " berkata Belphe yang melihat ke arah kaki Gerald berpijak.  " menikmati? bahkan aku seperti sedang berlibur sekarang! " teriak Gerald yang sekarang mencoba untuk berlari ke arah Raja Belphe.  Sret sret sret!  " hihi " tertawa kecil.  Sembari menunggu kedatangan Gerald, Saat ini Belphe membuat satu buah pedang dari Aura hitamnya. " kemarilah! " berkata Belphe bersiap menerima serangan Gerald.  mendesing!  Sam...

ANOTHER WORLD 01-100 VOLUME 01 REIN AND ROSE

YOUTUBE LOG IN NASCITA ANOTHER WORLD REIN AND ROSE EPISODE 01-05 VOLUME 01 Blood Of Crawford!  EPISODE 01 12 tahun kemudian, di dunia lainnya. Jepang 12 februari 2026 " Rein! bangun! " suara merdu seorang Ibu yang menghampiri anaknya. Peletak!  jitakan! Mengusap kepalanya, Lelaki berumur 12 tahun membuka matanya. Melihat dua orang wanita yang saat ini duduk di kasur empuknya. " cepat lah! hari ini kamu ulangan, bukan?" besar seorang ibu yang saat ini menyiapkan baju ganti di meja belajar anaknya. " hooaam! " menarik nafas, lelaki berumur 12 tahun mencoba untuk menggerakan tubuh nya. " iya mom, aku bangun. " bug! " apa kamu belajar sampai larut malam, Rein?" berkata seorang gadis yang menubruk jatuh tubuh Rein di kasurnya. " hihihi! seperti adikku akan menjadi peringkat satu kali ini! " Hup! Mencoba untuk bangun dan menggerakkan badannya yang saat ini masih di tindih tubuh anak gadis yang sama seumurannya. " menyingkir dar...