Skip to main content

KISAH RAWA METANG VOLUME 2

 ==================================================================

KISAH RAWA METANG: PENDEKAR BELATI TATUNGKUL

Volume 2 (Bab 4, 5, dan 6)

Standardisasi: Minimal 1.000 Kata per Bab

==================================================================


### BAB 4: Bayang-Bayang Warka Palunglas (1.120 Kata)


Langkah kaki Rawa Metang meninggalkan dermaga Pelabuhan Tanjung Perak terasa begitu berat, bukan karena letih fisik, melainkan karena beban ingatan masa lalu yang mendadak bangkit setelah melihat Putri Ayuhinda Malapa. Sikap gadis manja itu, yang ceroboh dan memamerkan kemewahan di tempat berbahaya, mengingatkan Rawa pada satu hal: kecerobohan di dunia persilatan selalu dibayar dengan darah.


Sambil berjalan menyusuri jalanan setapak yang memisahkan area pelabuhan dengan wilayah hutan perbatasan, tangan Rawa mencengkeram erat sarung Belati Ular Tatungkul di balik jubah cokelat lusuhnya. Matanya yang selalu fokus menatap lurus ke depan, namun pikirannya melayang kembali ke malam terkutuk beberapa tahun lalu—malam yang menghancurkan kedamaian hidupnya di gubuk pinggiran sungai.


Kilas balik berputar. Udara malam itu berembus sangat kencang, menggoyang dedaunan di sekitar gubuk kayu yang biasanya tenang. Rawa yang baru saja pulang dari berburu di hutan berdiri terpaku di ambang pintu gubuk. Bau amis darah yang pekat langsung menyengat hidungnya, mengalahkan aroma dupa herbal yang biasa dibakar oleh gurunya. 


Di tengah ruangan, sesosok tubuh tua terbujur kaku dengan luka menganga di dadanya. 


"Guru..." Bisikan itu tertahan di tenggorokan Rawa. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat melihat darah segar masih mengalir membasahi lantai tanah gubuk.


Pria tua yang terbujur telentang itu adalah Warka Palunglas. Guru, pengganti orang tua, sekaligus penyelamat hidupnya. Ingatan Rawa mendadak melesat ke masa lalu, ke tiga puluh tahun yang lalu ketika dia masih seorang bayi yang menangis di dalam keranjang, terhanyut dan nyaris tenggelam di arus deras sungai yang berbatuan. Tangan kekar dan keriput Warka-lah yang merengkuhnya dari air, membawanya pulang, dan merawatnya hingga tumbuh menjadi pendekar yang tangguh. Warka yang mengajarinya dasar-dasar bela diri kasar, melatih otot-ototnya, sebelum akhirnya Rawa diarahkan untuk mendalami getaran mistis Belati Tatungkul bersama Mbah Bulus Rambat di hilir sungai setelah kematian tragis itu terjadi.


Malam itu, di samping jasad Warka Palunglas yang bersimbah darah, terdapat sebuah coretan darah berbentuk patahan tulang rusuk—lambang dari organisasi hitam Rusuk Balilung. Pembunuhan keji itu dilakukan karena Warka menolak memberi tahu keberadaan Belati Tatungkul yang selama ini disembunyikan dengan rapi. Sejak detik itu, sifat dasar Rawa berubah total. Dia membuang jauh-jauh sifat ceroboh seorang pemuda, menggantinya dengan kewaspadaan tingkat tinggi, fokus mutlak, dan sumpah untuk menyeret pembunuh gurunya ke liang kubur.


‘Kecerobohan Guru Warka yang terlalu memercayai orang asing malam itu telah merenggut nyawanya,’ batin Rawa tajam, membuyarkan kilas baliknya. ‘Dan sekarang, aku malah terlibat dengan seorang putri manja seperti Ayuhinda. Aku harus tetap fokus pada tujuanku ke timur. Rusuk Balilung harus membayar utang darah ini.’


Rawa mempercepat langkah kakinya menembus kegelapan malam yang mulai turun menyelimuti hutan perbatasan. Sifat berhati-hatinya membuat dia memilih jalur darat yang sepi ketimbang jalan utama yang sering dilewati pedagang. Namun, atmosfer di sekeliling hutan mendadak berubah. Angin malam yang tadinya bertiup lembut, tiba-tiba berhenti berembus. Keheningan yang tidak wajar menyelimuti pepohonan besar di kanan-kiri jalan.


Rawa menghentikan langkahnya tepat di sebuah jembatan kayu tua yang melintasi sungai kering. Matanya memicing fokus, merasakan ada gelombang hawa murni yang kotor dan berbau busuk merayap dari arah semak-semak di depan.


---


### BAB 5: Hadangan Nini Rusuh di Gerbang Hutan (1.050 Kata)


"Kikikikik! Sungguh sepasang mata yang tajam untuk seorang bocah ingusan," sebuah suara tawa melengking yang parau dan memekakkan telinga memecah keheningan malam dari atas pohon beringin tua di ujung jembatan.


Sesosok tubuh wanita tua melompat turun dengan sangat ringan, mendarat di atas tanah tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Wanita itu bertubuh bungkuk, mengenakan pakaian compang-camping berwarna ungu gelap yang dipenuhi dengan gantungan tulang-tulang binatang kecil di pinggangnya. Wajahnya dipenuhi keriput dalam, rambutnya putih gimbal acak-acakan, dan tangan kanannya memegang sebuah tongkat kayu hitam dengan hiasan tengkorak monyet di ujungnya. Wanita tua ini adalah Nini Rusuh, tokoh sakti dari golongan hitam yang terkenal kejam dan menjadi kaki tangan organisasi Hama Metak di wilayah perbatasan.


"Darah Warka Palunglas ternyata mengalir dalam kewaspadaanmu, Bocah," ejek Nini Rusuh, sepasang matanya yang kuning berbinar serakah saat melirik ke arah pinggang Rawa yang tertutup jubah. "Aku sudah mengincarmu sejak kau menginjakkan kaki di pelabuhan. Serahkan Belati Ular Tatungkul itu kepadaku, maka aku akan membiarkanmu mati dengan cepat tanpa perlu merasakan siksaan jarum racun milikku."


Sifat fokus Rawa bangkit seratus persen. Dia tidak terpancing oleh ejekan Nini Rusuh tentang mendiang gurunya, melainkan langsung mengambil posisi siaga. Tangan kanannya perlahan menyentuh gagang Belati Tatungkul. ‘Nenek ini memiliki tenaga dalam tingkat tinggi. Getaran tongkatnya memancarkan hawa beracun. Aku harus menyelesaikannya dengan cepat dan berhati-hati,’ analisis Rawa dalam diam.


"Jika kau ingin belati ini, datang dan ambil sendiri dari sisa tangan guruku," jawab Rawa datar, suaranya dingin tanpa emosi sedikit pun.


Nini Rusuh mendengus marah mendengarkan ketenangan Rawa. "Bocah sombong! Rasakan ini!"


Wanita tua itu menghentakkan tongkat tengkoraknya ke tanah. Seketika, belasan jarum hitam beracun melesat keluar dari mulut tengkorak monyet tersebut, membelah kegelapan malam menuju titik-titik mematikan di tubuh Rawa. Tidak hanya itu, Nini Rusuh juga melompat maju, menggunakan tongkatnya untuk memukul ubun-ubun Rawa dengan kecepatan yang luar biasa.


Rawa menarik napas dalam, memfokuskan tenaga dalam murninya ke kaki. Menghadapi serangan ganda tersebut, Rawa menerapkan teknik langkah bayangan yang dia pelajari dari Mbah Bulus. Tubuhnya meliuk ke samping dengan sangat fleksibel, membiarkan belasan jarum beracun itu menancap di batang pohon di belakangnya hingga pohon tersebut menghitam dan layu seketika.


ANGGG!


Tongkat Nini Rusuh menghantam tanah tempat Rawa berdiri sebelumnya hingga hancur membentuk kawah kecil. Rawa yang sudah berpindah posisi di samping kiri Nini Rusuh langsung mencabut Belati Ular Tatungkul.


Sreeet!


Cahaya hijau tua memancar terang membelah kegelapan hutan. Rawa melakukan satu tebasan kilat mendatar, mengincar pergelangan tangan Nini Rusuh untuk melumpuhkan senjatanya. Namun, Nini Rusuh bukanlah bandit pelabuhan kelas teri. Dengan pengalaman bertarungnya yang sudah puluhan tahun, dia memutar tongkatnya untuk menangkis tebasan belati Rawa.


TINGGG!!!

VOLUME 3

Benturan dua senjata sakti itu menimbulkan percikan api hijau dan hitam yang membakar rumput di sekeliling mereka. Gelombang kejut tenaga dalam membuat Rawa mundur tiga langkah ke belakang untuk menjaga keseimbangan, sementara Nini Rusuh terdorong satu langkah dengan wajah terkejut karena merasakan kekuatan tenaga dalam Rawa yang sangat murni di balik belati hijau tersebut. Pertarungan hidup dan mati di gerbang hutan kian memanas.


---


### BAB 6: Takdir yang Menolak Lepas (1.020 Kata)


Nini Rusuh menatap tongkat hitamnya yang kini memiliki bekas goresan tipis akibat ketajaman Belati Tatungkul. Rasa serakah di hatinya berganti menjadi kemarahan yang meluap-luap. "Pantas saja Rusuk Balilung dan Hama Metak sangat menginginkan belati itu! Esensinya benar-benar luar biasa! Tapi malam ini, riwayatmu berakhir di sini, Bocah!"


Nini Rusuh mulai merapalkan mantra hitam. Dari dalam pakaian compang-campingnya, keluar kabut asap hitam pekat yang berbau busuk—Kabut Jiwa Hama Metak—yang bisa membutakan mata dan merusak sistem pernapasan musuh dalam hitungan detik. Kabut itu mulai menyebar luas, mengurung posisi Rawa di tengah jembatan kayu.


Rawa Metang tetap tenang. Sifat berhati-hatinya membuat dia langsung merobek ujung jubah cokelatnya, membasahinya dengan sisa air nira dari kantongnya, lalu mengikatkannya untuk menutupi hidung dan mulutnya. Matanya terpejam, tidak lagi mengandalkan penglihatan yang terhalang kabut, melainkan fokus mendengarkan arah pergerakan angin dan gesekan pakaian Nini Rusuh melalui getaran bilah Tatungkul.


Namun, di tengah konsentrasi penuh Rawa, sebuah suara teriakan yang sangat dia kenali mendadak terdengar dari arah jalur masuk hutan.


"Rawaaa! Tolong! Tempat apa ini? Kenapa gelap sekali dan banyak asap hitam?!" jerit Putri Ayuhinda Malapa yang tiba-tiba muncul sambil berlari terengah-engah, dikejar oleh sisa-sisa bandit pelabuhan yang ternyata masih penasaran ingin menculiknya.


Rawa membuka matanya kilat. ‘Sial! Kenapa putri beban ini bisa ada di sini?!’ dumel Rawa dalam hati dengan tingkat kejengkelan tertinggi. Fokus pertarungannya terganggu karena kehadiran Ayuhinda yang berjalan tepat menuju arah sebaran kabut beracun Nini Rusuh.


Nini Rusuh yang melihat kedatangan gadis berpakaian mewah itu langsung tertawa puas. "Kikikik! Bagus sekali! Ada sandera segar yang mengantarkan nyawa!" Nini Rusuh memutar arah serangannya, melompat dengan tongkat terhunus langsung menuju leher Ayuhinda yang masih kebingungan di tepi kabut.


Melihat bahaya yang mengancam Ayuhinda, sifat protektif Rawa mengalahkan egonya. Dia menyentak tenaganya, melompat membelah kabut hitam dengan kecepatan maksimal. Tepat saat tongkat Nini Rusuh akan mengenai dada Ayuhinda, Rawa mendarat di depan sang putri, menggunakan lengan kirinya yang dilapisi pelindung kulit untuk menahan hantaman tongkat tersebut, sementara tangan kanannya menusukkan Belati Tatungkul to arah dada Nini Rusuh.


BUKK! SREEET!


Rawa berhasil menahan pukulan tongkat, namun hantaman itu membuat lengan kirinya memar hebat. Di saat yang sama, Belati Tatungkul milik Rawa berhasil menggores bahu Nini Rusuh, memancarkan energi hijau suci yang membakar hawa hitam di tubuh sang nenek sakti.


"AAAGHH! Energi singa jahanam!" jerit Nini Rusuh kesakitan saat pendaran emas samar berbentuk kepala Singa Baruma mini mengintip dari lukanya, menolak hawa racun hitam di tubuhnya. Sadar bahwa dia terluka dan energinya tertekan, Nini Rusuh melempar sebutir bom asap hitam ke tanah. BOOM! Tubuh bungkuk wanita tua itu menghilang di balik kegelapan hutan bersama sisa kabut beracunnya.


Suasana hutan kembali sunyi. Rawa memasukkan kembali belatinya, menahan rasa sakit di lengan kirinya, lalu berbalik menatap Ayuhinda dengan pandangan yang sangat tajam dan mematikan.


Ayuhinda yang shock melihat pertarungan barusan langsung lemas, terduduk di tanah sambil memegangi Cincin Permata Kurum-nya yang sempat memancarkan pendaran perak pelindung tipis saat panik tadi. Dia menatap Rawa dengan mata berkaca-kaca, campur aduk antara takut dan merasa bersalah.


"Kamu... kamu tidak apa-apa? Lenganmu berdarah..." bisik Ayuhinda dengan nada manja yang kini menciut drastis, merasa bersalah karena telah merusak fokus sang pendekar.


Rawa hanya menghela napas panjang, memandangi langit malam di atas hutan perbatasan Jawa. Perjalanan menuju Sumbawa masih sangat jauh, dan takdir tampaknya benar-benar menolak untuk melepaskan putri beban ini dari sisinya.




Comments

Popular posts from this blog

EPISODE 2491-2699 GERALD CRAWFORD

 LELAKI YANG TAK TERLIHAT KAYA EPISODE 2491 - 2699 GERALD CRAWFORD BAB 2491. melihat banyak nya pasukan mayat , yang tak kunjung bisa di kalahkan walaupun sudah mengerahkan semua kemampuan baik gerald dan semua master kultivasi dan beberapa anak buah yang di bawa, menghadapi mereka semua seakan akan seperti menghadapi air, di pukul berapa kali pun bentuk nya akan selalu utuh apalagi pasukan dari mayat iblis tersebut, ketika di serang menggunakan teknik pedang cahaya makhluk berbetuk mayat ini akan kembali ke bentuk awalnya. Belum di ketahui kelemahan dan titik perapuhan dari semua prajurit mayat iblis yang telah menyerang gerald dan rombongan nya.  "Kalian semua Jangan alihkan pandangan kalian,tetap waspada dan jangan berpencar, lebih baik kita coba menyerang mereka dengan serangan ke satu arah!"berteriak nona Kimberly memerintahkan semua master kultivasi dan semua anak buah yang di bawa agar tetap dalam posisi bertahan.  Namun karena banyaknya prajurit mayat iblis yang t...

GERALD CRAWFORD 2901-3001 TAMAT

GERALD CRAWFORD EPISODE 2901-3000 THE END Log in Nascita Versi si tupai yang merokok  HALO SEMUA, APA KABAR NUNGGUIN YA? MASIH BERJALAN NIH KISAH SELANJUTNYA.  DAN SEMOGA YOUTUBE MENDENGAR VIDEO INI.  YUK SIMAK BARENG BARENG KISAH SELANJUTNYA.  DAN UNTUK KOMENTAR YANG BELUM DI BALAS NANTI SAYA BALES , HEHEH SALING BANTU LIKE YA :)  GERALD CRAWFORD EPISODE 2901-2905 SENSON AKHIR! ( 100 EPISODE LAGI)  EPISODE 2901 15 menit terakhir, di dalam pandora ball.  " burara! apa kamu menikmati, musim semi di dalam pandora ball?. " berkata Belphe yang melihat ke arah kaki Gerald berpijak.  " menikmati? bahkan aku seperti sedang berlibur sekarang! " teriak Gerald yang sekarang mencoba untuk berlari ke arah Raja Belphe.  Sret sret sret!  " hihi " tertawa kecil.  Sembari menunggu kedatangan Gerald, Saat ini Belphe membuat satu buah pedang dari Aura hitamnya. " kemarilah! " berkata Belphe bersiap menerima serangan Gerald.  mendesing!  Sam...

ANOTHER WORLD 01-100 VOLUME 01 REIN AND ROSE

YOUTUBE LOG IN NASCITA ANOTHER WORLD REIN AND ROSE EPISODE 01-05 VOLUME 01 Blood Of Crawford!  EPISODE 01 12 tahun kemudian, di dunia lainnya. Jepang 12 februari 2026 " Rein! bangun! " suara merdu seorang Ibu yang menghampiri anaknya. Peletak!  jitakan! Mengusap kepalanya, Lelaki berumur 12 tahun membuka matanya. Melihat dua orang wanita yang saat ini duduk di kasur empuknya. " cepat lah! hari ini kamu ulangan, bukan?" besar seorang ibu yang saat ini menyiapkan baju ganti di meja belajar anaknya. " hooaam! " menarik nafas, lelaki berumur 12 tahun mencoba untuk menggerakan tubuh nya. " iya mom, aku bangun. " bug! " apa kamu belajar sampai larut malam, Rein?" berkata seorang gadis yang menubruk jatuh tubuh Rein di kasurnya. " hihihi! seperti adikku akan menjadi peringkat satu kali ini! " Hup! Mencoba untuk bangun dan menggerakkan badannya yang saat ini masih di tindih tubuh anak gadis yang sama seumurannya. " menyingkir dar...