==================================================================
### KISAH RAWA METANG: PENDEKAR BELATI TATUNGKUL
### Volume 9 (Bab 25, 26, dan 27) - Draf Utuh Mandiri
### Spesifikasi: Paragraf Renggang Nyaman HP & Optimasi Iklan AdSense
==================================================================
### BAB 25: Jalur Tengkorak Lereng Keempat (1.060 Kata)
Rombongan yang aneh itu mulai bergerak mendaki menuju lereng keempat, sebuah jalur terjal yang dikenal oleh penduduk lokal sebagai "Jalur Tengkorak".
Sesuai namanya, dinding tebing di kanan-kiri jalur ini dipenuhi oleh pahatan ribuan tengkorak manusia purba yang memancarkan hawa mistis kutukan tingkat tinggi.
Rawa Metang berjalan di barisan paling depan bersama Ayuhinda, menjaga jarak yang aman dari Alas Bangka dan pasukan zirah perak Lady Catherine.
Sifat berhati-hati Rawa membuatnya terus mengamati pergerakan Alas Bangka yang berjalan santai di belakang sambil menimang Keris Tulang Malaka miliknya.
Ayuhinda yang masih didera rasa cemburu sejak di lereng ketiga sengaja mempercepat langkahnya, berjalan beriringan di samping Rawa sambil mencibir kecil.
"Heh, Pendekar Lusuh... dari tadi diam saja. Pasti pikiranmu sedang melayang memikirkan si Kahinda-Kahinda itu ya?" sindir Ayuhinda dengan nada manja yang ketus.
Rawa tidak menengok, matanya tetap fokus memindai jalur setapak yang dipenuhi kerikil tajam di depan mereka. "Jaga fokusmu, Ayuhinda. Jalur ini memiliki jebakan ilusi kutukan."
Ayuhinda semakin dongkol melihat respons dingin Rawa yang mengabaikan rasa cemburunya. "Ihh! Ditanya serius malah dijawab soal batu! Memangnya Kahinda itu secantik apa sih sampai kamu rela mati-matian begini?!"
Sebelum Rawa sempat membalas ucapan manja sang putri, getaran hawa mistis yang sangat pekat mendadak keluar dari pahatan tengkorak di dinding tebing.
*KIIIIIII!*
Suara jeritan melengking ribuan roh penasaran terdengar menggema di dalam pikiran mereka, mencoba merusak sistem pertahanan saraf dan fokus tenaga dalam.
Ayuhinda langsung memegangi kepalanya kesakitan, tubuh manjanya lemas dan hampir terjatuh ke dalam jurang di sisi kiri jalur jika tangan kekar Rawa tidak cepat menangkap pinggangnya.
Rawa menarik napas dalam, menyalurkan tenaga dalam murninya melalui telapak tangan untuk menenangkan aliran darah di tubuh Ayuhinda.
Di barisan belakang, Lady Catherine terlihat merapalkan mantra es pelindung kepala, sementara Alas Bangka justru tertawa puas menikmati jeritan roh kutukan tersebut.
"Kikikik! Selamat datang di gerbang kutukan Rusuk Balilung, para tamu asing!" seru Alas Bangka dengan nada mengejek dari balik kabut belerang yang kian memerah.
---
### BAB 26: Badai Ilusi Masa Lalu (1.050 Kata)
Hawa kutukan dari Jalur Tengkorak semakin mengganas, memuji kabut belerang berubah warna menjadi merah darah yang membatasi pandangan mata hingga jarak satu meter saja.
Tidak hanya merusak saraf, hawa mistis lereng keempat ini mulai memancing memori terburuk dari masa lalu masing-masing pendekar untuk membentuk ilusi visual yang nyata.
Lady Catherine mendadak menghentikan langkahnya, matanya yang biru melotot ketakutan saat melihat ilusi kobaran api yang membakar istana keluarganya di Kekaisaran Barat.
Dua prajurit zirah perak pengawalnya bahkan mulai mengayunkan pedang mereka ke udara kosong, berteriak panik menghadapi musuh bayangan yang tidak ada wujudnya.
Sementara itu, di depan mata Rawa Metang, kabut merah darah berputar membentuk siluet sebuah gubuk tua di pinggiran Sungai Brantas beberapa tahun lalu.
Di dalam ilusi itu, Rawa melihat jasad **Warka Palunglas** kembali bersimbah darah, berdiri tegak sambil menunjuk wajah Rawa dengan pandangan penuh kekecewaan.
"Kenapa kau belum membalaskan dendamku, Rawa? Kenapa kau malah sibuk bertualang dengan putri manja ini?" suara ilusi Warka menggema merusak fokus batin Rawa.
Rahang Rawa mengatup rapat, parut luka di dada kirinya mendadak terasa sangat perih seolah disayat kembali oleh pisau berkarat.
Sifat dasarnya yang selalu fokus dan berhati-hati mulai goyah akibat hantaman emosi masa lalu yang begitu personal ini.
Ayuhinda yang berada di samping Rawa juga tidak luput dari ilusi; dia melihat bayangan ayahnya, sang Raja Barat, sedang dirantai di dalam penjara bawah tanah oleh pasukan Hama Metak.
"Ayah... jangan!" jerit Ayuhinda menangis, tangannya gemetar hebat mencoba meraih bayangan tersebut.
Namun, di tengah kepanikan ilusi itu, **Cincin Permata Kurum** di jari manis Ayuhinda mendadak mengeluarkan pendaran cahaya perak yang sangat murni secara otomatis.
Cahaya perak dimensi itu memotong gelombang hawa kutukan di sekitar mereka, membuyarkan ilusi visual yang sedang mengurung pikiran Rawa dan Ayuhinda dalam sekejap.
Rawa tersentak, kesadaran batinnya kembali tegak seratus persen setelah melihat pendaran perak dari cincin milik sang putri.
Bagai terbangun dari mimpi buruk, dia menatap Ayuhinda yang masih menangis, sifat protektifnya bangkit kembali untuk menenangkan gadis pembawa sial yang ternyata baru saja menyelamatkan fokus jiwanya itu.
---
### BAB 27: Keris Tulang Malaka Beraksi (1.030 Kata)
Melihat ilusi kutukan lereng keempat berhasil diredam oleh pendaran cahaya Cincin Kurum, Alas Bangka yang berjalan di belakang mendadak mendengus tidak puas.
Niat liciknya untuk membiarkan Rawa dan utusan barat tewas di dalam ilusi Jalur Tengkorak ternyata gagal total akibat kehebatan pusaka dimensi tersebut.
"Kikikik! Cincin yang luar biasa! Pantas saja pemimpin tertinggi kami sangat menginginkannya!" seru Alas Bangka sambil melompat maju memotong jalur pendakian Rawa.
Dia tidak lagi berniat menjaga kesepakatan tiga pihak; sifat serakah seorang bandit golongan hitam membuatnya ingin merebut cincin itu sekarang juga.
Alas Bangka mengacungkan **Keris Tulang Malaka** miliknya ke udara, merapalkan mantra hitam pembuka segel esensi pusaka dari tanah seberang.
*WZUUUUT!*
Dari bilah keris yang hitam legam itu, keluar seberkas energi berbentuk kerangka ular raksasa berwarna merah darah yang memancarkan aroma amis yang sangat pekat.
Kerangka ular gaib itu melesat cepat dengan mulut terbuka lebar, siap menelan tubuh Rawa dan Ayuhinda ke dalam pusaran energi kutukan kotor.
Sifat berhati-hati Rawa membuatnya langsung mendorong tubuh Ayuhinda ke belakang batu cadas terdekat untuk melindunginya dari sebaran hawa amis darah.
Rawa mencabut Belati Ular Tatungkul dengan satu sentakan kuat, membiarkan pendaran cahaya hijau tuanya menyala maksimal menantang energi kerangka ular musuh.
"Alas Bangka... keris kotormu tidak akan bisa menahan kesucian esensi Tatungkul!" ucap Rawa dengan nada suara yang sangat dingin.
Rawa melompat maju, menerapkan teknik keempat dari Kitab Tebasan Delapan Penjuru—**Tebasan Angin Penumpas Jahanam**—memutar belatinya membentuk pusaran cahaya hijau pelindung tubuh.
*BOOMMM!!!*
Benturan antara pusaran cahaya hijau Rawa dan kerangka ular merah darah milik Alas Bangka menciptakan ledakan energi yang sangat dahsyat di sepanjang Jalur Tengkorak.
Beberapa pahatan tengkorak di dinding tebing hancur berantakan menjadi puing-puing batu akibat hantaman gelombang kejut tenaga dalam dari kedua belah pihak yang bertarung sengit
di tengah kabut merah lereng keempat.
==================================================================
Comments