==================================================================
### KISAH RAWA METANG: PENDEKAR BELATI TATUNGKUL
### Volume 10 (Bab 28, 29, dan 30) - Draf Utuh Mandiri
### Spesifikasi: Paragraf Renggang Nyaman HP & Optimasi Iklan AdSense
==================================================================
### BAB 28: Amukan Tanduk Lava Pertama (1.060 Kata)
Ledakan energi dari benturan senjata membuat Alas Bangka mundur dua langkah, namun seringai licik di wajah bertatonya sama sekali tidak memudar.
Dia memutar Keris Tulang Malaka miliknya kembali, mengalirkan seluruh sisa tenaga dalam hitamnya untuk memperkuat kembali esensi kerangka ular merah darah.
"Bocah ingusan! Kau baru menguasai dasar tebasan belati itu! Kau tidak akan bisa menahan kutukan darah dari seribu korban kerisku!" teriak Alas Bangka kejam.
Kerangka ular merah itu membesar dua kali lipat, memancarkan tekanan gaib yang membuat pergelangan tangan kanan Rawa mulai terasa kaku dan berat.
Sifat fokus Rawa berada di titik puncaknya; dia tahu jika dia tidak melepaskan kekuatan tersembunyi dari Belati Tatungkul sekarang, mereka akan hancur di lereng keempat ini.
Rawa memejamkan matanya sejenak di tengah badai angin darah, berkomunikasi langsung dengan entitas purba di dalam belatinya. *‘Tatungkul... pinjamkan aku kekuatan tanduk pertamamu!’*
*BRRRRRRR!*
Bilah Belati Ular Tatungkul mendadak bergetar hebat, dan untuk pertama kalinya sejak Rawa mulai bertualang, **satu dari delapan tanduk batu** di dalam batin belati ular tersebut menyala sempurna dengan warna merah-oranye lava pijar yang sangat panas.
Pamor hijau tua di belati Rawa mendadak dilapisi oleh aliran cairan magma gaib yang berkilat-kilat mengusir seluruh hawa dingin dan aroma amis di lereng keempat.
Rawa membuka matanya yang kini memancarkan binar oranye menyala tipis, menatap lurus ke arah jantung Alas Bangka dengan tatapan matematis yang dingin.
Dengan satu gerakan tebasan horizontal yang sangat bertenaga, Rawa mengayunkan belati berlava itu ke depan.
*SREEEEEEET!*
Sebuah gelombang tebasan berbentuk lidah api magma raksasa melesat cepat membelah kegelapan malam, memotong kerangka ular merah milik Alas Bangka menjadi dua bagian secara instan dengan suara desisan membara.
"Apa-apaan kekuatan api ini?! Ini bukan energi Tatungkul yang ada di dalam catatan organisasi kami!" jerit Alas Bangka panik saat melihat keris saktinya mulai bergetar retak akibat radiasi panas magma Rawa.
Tebasan lava lanjutan dari Rawa menghantam dada kiri Alas Bangka, membakar sebagian pakaian kulit ular pitonnya dan melemparkan tubuh komandan Rusuk Balilung itu jatuh berguling-gung ke dalam jurang lereng keempat yang gelap gulita.
---
### BAB 29: Pertempuran di Ambang Lereng Kelima (1.080 Kata)
Kekalahan tragis Alas Bangka membuat sisa-sisa hawa kutukan di Jalur Tengkorak lenyap tak berbekas, menyisakan keheningan malam yang mencekam di perbatasan menuju lereng kelima.
Rawa Metang berlutut dengan satu kaki di atas tanah, napasnya memburu cepat dan Belati Tatungkul di tangannya perlahan kembali ke pendaran hijau tua normal setelah tanduk lava pertamanya meredup kembali.
Sifat berhati-hatinya membuatnya menyadari bahwa menggunakan kekuatan tanduk lava menguras hampir setengah dari total cadangan tenaga dalam murninya dalam sekejap.
Ayuhinda buru-buru berlari keluar dari balik tempat persembunyiannya, wajah manjanya dipenuhi rasa khawatir yang mendalam melihat tubuh Rawa yang dipenuhi keringat dingin.
"Rawa! Kamu tidak apa-apa? Tanganmu panas sekali seperti habis memegang tungku besi!" ucap Ayuhinda sambil memegangi lengan kanan Rawa tanpa memedulikan gengsinya lagi.
Rawa menggelengkan kepala perlahan, memaksakan dirinya untuk berdiri tegak kembali menggunakan topangan sisa tenaga dalamnya. "Aku tidak apa-apa. Kita harus segera bergerak sebelum Lady Catherine menyadari situasi ini."
Namun, ucapan Rawa terlambat; dari arah belakang kabut yang mulai menipis, Lady Catherine melangkah maju bersama dua prajurit pengawalnya yang berhasil lolos dari ilusi masa lalu.
Catherine menatap bekas lelehan batu cadas akibat tebasan magma Rawa dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa kewaspadaan tingkat tinggi sekaligus keserakan yang kian memuncak.
"Kekuatan senjata purba itu benar-benar luar biasa... bisa memanipulasi elemen api magma purba secara instan tanpa perlu merapalkan mantra sihir panjang," bisik Catherine kagum.
Dia mengacungkan busur peraknya kembali, mengincar punggung Rawa yang terlihat masih lemas pasca pertempuran melawan Alas Bangka.
"Kesatria Pribumi... kau sudah kehabisan banyak tenaga untuk mengalahkan komandan Rusuk Balilung itu. Sekarang adalah waktu yang paling tepat bagiku untuk mengambil alih belati dan cincin itu dari tangan kalian," ancam Catherine dengan senyuman dingin.
Sifat fokus Rawa kembali terkunci, meskipun tubuhnya lemas, dia tidak akan membiarkan Ayuhinda jatuh ke tangan utusan asing dari Kekaisaran Barat seberang lautan ini.
---
### BAB 30: Jebakan Es di Gerbang Kelima (1.040 Kata)
Lady Catherine tidak membuang waktu lebih lama lagi; dia langsung melepaskan tiga anak panah es gaib secara bersamaan dari busur perak saktinya.
Tiga anak panah itu melesat membentuk formasi segitiga maut yang mengunci seluruh jalur pelarian Rawa dan Ayuhinda di ambang pintu masuk lereng kelima.
Sifat berhati-hati Rawa membuatnya tahu bahwa dalam kondisi fisik yang lemas seperti ini, melakukan gerakan menghindar yang ekstrem hanya akan membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan.
"Ayuhinda! Gunakan Cincin Kurummu untuk memindahkan kita ke balik batu besar di sisi kanan dalam hitungan tiga!" perintah Rawa cepat sambil merangkul pundak sang putri erat.
Ayuhinda yang terkejut mendadak dipeluk oleh Rawa merasakan jantungnya berdegup kencang, namun dia tahu ini adalah situasi hidup dan mati yang tidak boleh dirusak oleh sifat manjanya.
Gadis itu memejamkan mata, memfokuskan sisa pikiran spiritualnya untuk mengaktifkan energi ruang dimensi tingkat tinggi yang ada di dalam **Cincin Permata Kurum**.
*Ting!*
Tepat sebelum tiga anak panah es milik Catherine menembus jubah mereka, pendaran cahaya perak melilit tubuh Rawa dan Ayuhinda, memindahkan posisi fisik mereka secara instan sejauh sepuluh langkah ke arah kanan di balik perlindungan batu raksasa.
*BLAM! BLAM! BLAM!*
Tiga anak panah es Catherine menghantam tanah kosong tempat mereka berdiri sebelumnya, menciptakan ledakan es yang membekukan area tersebut menjadi bongkahan kristal setinggi dua meter.
"Sial! Sihir ruang dimensi dari cincin itu benar-benar merepotkan!" umpat Catherine kesal melihat serangannya kembali menemui kegagalan akibat kehebatan pusaka warisan Kerajaan Barat.
Rawa dan Ayuhinda mendarat di atas tanah dengan posisi aman, namun penggunaan energi dimensi secara mendadak membuat wajah cantik Ayuhinda menjadi sangat pucat karena kelelahan spiritual.
Rawa menatap wajah pucat Ayuhinda dengan pandangan yang melembut sesaat, ada rasa terima kasih yang mendalam di balik hatinya yang dingin karena putri beban ini telah dua kali menyelamatkan fokus perjalanannya malam ini.
==================================================================
Comments