==================================================================
### KISAH RAWA METANG: PENDEKAR BELATI TATUNGKUL
### Volume 8 (Bab 22, 23, dan 24) - Draf Utuh Mandiri
### Spesifikasi: Paragraf Renggang Nyaman HP & Optimasi Iklan AdSense
==================================================================
### BAB 22: Guncangan Es dari Seberang Lautan (1.060 Kata)
Udara di lereng ketiga Gunung Tambora mendadak turun drastis hingga mendekati titik beku, membuat kabut belerang yang tadinya panas berubah menjadi serpihan es halus.
Anak panah berbulu putih salju yang menancap di tanah terus memancarkan gelombang hawa dingin, membekukan rumput kering di sekitar kaki Rawa Metang.
Sifat dasar Rawa yang selalu berhati-hati membuatnya langsung menarik mundur langkah kakinya, berdiri melindungi Ayuhinda yang masih gemetar di balik batu.
Matanya yang fokus beralih dari Selo Gunting yang sedang terluka, terkunci sepenuhnya pada sosok wanita asing berambut pirang di depan mereka.
Wanita itu melangkah maju dengan keangkuhan yang nyata, dikawal oleh dua prajurit berzirah besi perak yang memegang pedang bermata ganda.
"Namaku **Lady Catherine de Valois**, utusan khusus dari Orde Elang Perak Kekaisaran Barat," ucap wanita itu, suaranya sedingin es di kutub utara.
"Kami telah melintasi samudra luas bukan untuk melihat pertunjukan silat rendahan pribumi. Serahkan Cincin Permata Kurum itu, atau tempat ini akan menjadi kuburan es kalian."
Ayuhinda yang mendengar namanya disebut-sebut langsung meremas ujung jubah cokelatnya, wajah cantiknya memancarkan rasa tidak suka yang mendalam.
Meskipun takut dengan hawa dingin, sifat gengsi seorang putri kerajaan dalam diri Ayuhinda mendadak bangkit melihat keangkuhan Catherine.
"Heh, wanita pirang bermata aneh! Berani sekali kau meminta cincin warisan keluargaku dengan cara sekasar itu!" seru Ayuhinda dengan nada manja yang menantang.
Rawa tidak menengok, namun dia membisikkan peringatan keras melalui sudut bibirnya. "Jaga mulutmu, Ayuhinda. Orang-orang ini menggunakan sihir elemen alam, bukan tenaga dalam biasa."
Selo Gunting yang tangannya masih terluka akibat pantulan tameng emas Raden Baruma mendengus geram, merasa terhina oleh kedatangan orang asing tersebut.
"Jahanam asing! Lereng Tambora adalah wilayah kekuasaan Nusantara! Beraninya kalian mencampuri urusan kami!" teriak Selo Gunting sambil memaksakan sisa tenaga dalamnya ke ujung jari.
Selo Gunting melompat menerjang Catherine, berniat memecahkan kepala wanita pirang itu menggunakan sisa Ilmu Jari Selo Gunting miliknya.
Namun, Catherine sama sekali tidak bergeming; dia hanya mengangkat tangan kirinya yang dibalut sarung tangan sutra putih, merapalkan mantra singkat.
*WZUUUUT!*
Sebuah dinding es raksasa setebal satu meter mendadak bangkit dari dalam tanah secara instan, menahan terjangan jari Selo Gunting dengan sempurna.
*CRACK! BUKK!*
Jari sakti Selo Gunting berhasil meretakkan es tersebut, namun hawa dingin yang ekstrem langsung merayap naik membekukan seluruh lengan kanannya hingga mati rasa.
Selo Gunting terjatuh ke tanah sambil memegangi lengannya yang membiru, matanya melotot tidak percaya melihat betapa mudahnya ilmu saktinya diredam.
Rawa Metang mengetatkan genggamannya pada Belati Tatungkul, menyadari bahwa peta pertempuran di lereng ketiga ini telah berubah menjadi medan laga antar-bangsa yang mematikan.
---
### BAB 23: Kilatan Hijau Menembus Badai Salju (1.080 Kata)
Lady Catherine memalingkan pandangannya dari Selo Gunting yang sudah tidak berdaya, kini matanya yang biru sedingin es tertuju pada Rawa Metang.
Dia bisa merasakan getaran energi yang sangat murni memancar dari Belati Ular Tatungkul yang dipegang oleh pemuda berjubah lusuh itu.
"Senjata yang menarik untuk ukuran orang miskin," ejek Catherine dingin, sambil menarik tali busur peraknya kembali tanpa menggunakan anak panah fisik.
Sebuah anak panah yang murni terbuat dari kristal es gaib mendadak terbentuk di atas busur perak tersebut, memancarkan cahaya biru muda yang menyilaukan.
*TWANG!*
Anak panah es itu melesat membelah udara dengan kecepatan yang melampaui kecepatan suara, menciptakan jalur pembekuan instan di sepanjang lintasannya.
Sifat fokus Rawa membuatnya tidak memilih untuk menahan serangan itu menggunakan tameng emas Baruma lagi karena energinya belum pulih sepenuhnya.
Rawa menerapkan gerakan meliuk tingkat lanjut dari Kitab Tebasan Delapan Penjuru, menggeser tubuhnya ke samping kiri dengan ketepatan mikrodetik.
Anak panah es itu lewat di samping telinganya, menghantam tebing batu di belakang hingga meledak menjadi ribuan serpihan kristal tajam yang melesat ke segala arah.
Beberapa serpihan kristal sempat menggores pipi kanan Rawa, mengeluarkan setetes darah segar yang langsung membeku karena hawa dingin.
"Rawa! Pipi kamu berdarah!" jerit Ayuhinda cemas, ada rasa takut yang mendalam di hatinya jika pendekar pelindungnya ini tumbang di tangan wanita asing itu.
Rawa tidak memedulikan rasa perih di pipinya, sifat berhati-hatinya menuntut dia untuk segera memangkas jarak pertarungan sebelum Catherine melepaskan panah berikutnya.
With one powerful step, Rawa darted forward piercing through Catherine's localized blizzard, his body moving in a sharp zig-zag like a hunting snake sweeping across an icy field.
Melihat Rawa mendekat dengan cepat, dua prajurit berzirah perak pengawal Catherine langsung maju menghadang, mengayunkan pedang besar mereka secara bersamaan.
*TING! CRANG!*
Rawa memutar Belati Tatungkulnya dengan anggun, mematahkan lintasan pedang kedua prajurit tersebut menggunakan teknik tebasan penjuru angin.
Pamor hijau suci di belati ular itu memancarkan hawa hangat yang sangat kuat, melelehkan lapisan es yang menempel di zirah musuh dalam sekali gesekan.
Rawa membalikkan posisi belatinya, mendaratkan dua pukulan gagah ke arah dada kedua prajurit zirah perak hingga mereka terlempar ke belakang karena guncangan tenaga dalam murni.
Kini, jarak antara Rawa Metang dan Lady Catherine hanya tersisa tiga langkah saja, membuat wanita pirang itu terkejut melihat kecepatan pendekar pribumi ini.
---
### BAB 24: Kesepakatan Tiga Pihak yang Terpaksa (1.040 Kata)
Catherine buru-buru menarik belati perak kecil dari pinggangnya untuk menahan sambaran Belati Tatungkul milik Rawa yang mengincar lehernya.
*TINGGG!*
Benturan kedua senjata itu memicu pertempuran energi yang luar biasa; kabut dingin biru dari Catherine beradu sengit dengan hawa hangat hijau tua dari belati Rawa.
Namun, di tengah benturan energi tersebut, sebuah suara tawa yang menggelegar dari arah lereng atas mendadak memotong jalannya pertarungan.
"Kikikik! Sungguh meriah sekali lereng ketigaku malam ini!" suara itu terdengar sangat kasar dan berbau amis darah yang pekat.
Sesosok pria bertubuh kurus tinggi melompat turun dari atas tebing, mendarat tepat di tengah-tengah area pertempuran dengan santai.
Pria itu mengenakan pakaian dari kulit ular piton raksasa, wajahnya dipenuhi rajutan tato berbentuk tulang rusuk manusia yang mengerikan.
Dia adalah **Alas Bangka**, salah satu komandan tertinggi dari organisasi hitam Rusuk Balilung yang dikirim langsung oleh pemimpin pusat.
Di tangan kanannya, tergenggam sebilah keris panjang berwarna hitam legam yang mengeluarkan aura kegelapan yang sangat kotor—**Keris Tulang Malaka**.
"Lady Catherine dari Kekaisaran Barat... dan bocah ingusan pembawa Belati Tatungkul," ujar Alas Bangka sambil menjilat bilah keris saktinya kejam.
"Kalian berdua bertarung di sini sementara ritual agung di puncak Tambora untuk membangkitkan wadah suci **Kahinda Ayurisi** sudah hampir selesai."
Mendengar nama **Kahinda Ayurisi** disebut, jantung Rawa Metang berdegup sangat kencang, fokus batinnya mendadak bergejolak hebat oleh rasa rindu dan dendam.
"Kahinda..." bisik Rawa lirih, rahangnya mengatup rapat hingga mengeluarkan suara derit yang mengerikan.
Putri Ayuhinda yang mendengar Rawa menyebut nama gadis lain dengan binar mata yang begitu dalam mendadak merasakan dadanya sesak oleh rasa cemburu yang asing.
Dia cemberut, meremas bantal kecil di dalam cincin dimensinya dengan dongkol. *‘Siapa sih Kahinda itu? Kenapa setiap nama itu disebut, pendekar kaku ini langsung berubah emosional?!’* batin Ayuhinda cemburu.
Alas Bangka melihat perubahan ekspresi mereka dengan senyuman licik. "Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan kecil? Kita naik ke puncak bersama, dan siapa yang bertahan paling akhir di depan gerbang istana, dialah yang berhak memiliki segalanya."
Lady Catherine menurunkan busur peraknya perlahan, sifat pragis bangsawan baratnya menimbang bahwa bertarung dengan Rawa di sini hanya akan membuang tenaganya sia-sia.
"Baiklah, Kesatria Rusuk Balilung. Aku menerima tantangan ini. Kekaisaran Barat akan membuktikan siapa pemilik sah energi purba itu," ucap Catherine angkuh.
Rawa Metang menyarungkan kembali Belati Tatungkulnya dengan dingin, matanya nampak tajam menatap jalur pendakian ke lereng keempat yang kian membara. "Aku tidak peduli dengan kesepakatan kalian. Aku mendaki hanya untuk mencabut kepala pembunuh guruku dan membawa pulang Kahinda."
==================================================================
Comments