==================================================================
### KISAH RAWA METANG: PENDEKAR BELATI TATUNGKUL
### Volume 7 (Bab 19, 20, dan 21)
### Spesifikasi: Paragraf Renggang Optimasi Iklan AdSense
==================================================================
### BAB 19: Bayang-Bayang Selo Gunting (1.060 Kata)
Kabut hitam yang menyelimuti lereng kedua Gunung Tambora perlahan menipis saat Rawa Metang dan Putri Ayuhinda melangkah memasuki wilayah lereng ketiga.
Berbeda dengan lereng sebelumnya yang dipenuhi tulang memutih, wilayah ini terasa sangat sunyi dan didominasi oleh bongkahan batu cadas raksasa yang tersusun rapi seperti sengaja ditata oleh tangan manusia.
Sifat dasar Rawa yang selalu berhati-hati membuatnya tidak menurunkan kewaspadaan sedikit pun, tangan kanannya tetap bertumpu pada gagang Belati Tatungkul.
Indra pendengarannya yang tajam mendadak menangkap suara kepakan sayap burung gagak yang terbang rendah, seolah-olah memberi peringatan akan datangnya petaka.
"Rawa, lihat di depan itu... ada orang duduk di atas batu," bisik Ayuhinda dengan nada manja yang tertahan, reflek merapatkan tubuhnya di balik punggung tegap Rawa.
Di atas sebuah batu cadas berbentuk kubus setinggi tiga meter, duduk seorang pria paruh baya mengenakan pakaian rami berwarna abu-abu kusam khas petapa.
Rambutnya yang mulai memutih dibiarkan terurai liar, namun sepasang matanya yang sipit memancarkan pendaran cahaya kuning pekat yang sangat menekan batin.
Pria itu tidak memegang senjata apa pun, namun kedua belah telapak tangannya terlihat sangat tebal dan berwarna kehitaman seperti batu legam yang sering ditempa api.
Dia adalah **Selo Gunting**, pendekar sakti golongan hitam dari tanah pasundan yang terkenal dengan ilmu totokan jari pembelah batu cadas.
"Kalian melangkah terlalu jauh, Anak Muda," suara Selo Gunting terdengar sangat berat dan bergema di antara celah-celah batu raksasa.
"Mahesa Kingkin mungkin memiliki kulit tembaga yang kuat, tapi dia bodoh dan lambat. Di depanku, kecepatan ular dan kekuatan singamu tidak akan ada gunanya."
Rawa menghentikan langkahnya tepat sepuluh langkah di depan batu kubus tersebut, matanya yang fokus langsung memindai posisi berdiri sang musuh.
Dia bisa merasakan bahwa energi di sekitar Selo Gunting tidak bergerak menyebar, melainkan memadat di ujung-ujung jarinya hingga menciptakan distorsi udara yang tipis.
"Aku tidak memiliki urusan denganmu, Petapa," jawab Rawa dengan suara yang sangat datar namun sarat akan tekanan tenaga dalam murni. "Tujuan hidupku ada di puncak gunung ini, dan siapa pun yang menghalangi akan berakhir menjadi asahan belatiku."
Selo Gunting tertawa kecil, suara tawanya membuat kerikil-kerikil di tanah bergetar hebat. "Bocah sombong! Mari kita lihat apakah Belati Tatungkulmu bisa menembus **Ilmu Jari Selo Gunting** milikku!"
Dengan satu sentakan kaki yang sangat halus, tubuh Selo Gunting melesat turun dari atas batu seperti seekor elang yang menyambar mangsa, dua jarinya lurus mengincar ulu hati Rawa.
---
### BAB 20: Deru Totokan Pemecah Cadas (1.080 Kata)
Serangan Selo Gunting datang dengan kecepatan yang sangat ekstrem, jauh lebih cepat daripada ayunan gada besi Mahesa Kingkin.
Sifat berhati-hati Rawa membuatnya tidak berani menangkis serangan tersebut secara langsung menggunakan tangan kosong.
*Sreeet!*
Rawa menarik tubuhnya ke belakang setengah langkah, membiarkan dua jari Selo Gunting lewat hanya beberapa milimeter di depan kain jubah cokelat lusuhnya.
*BLAM!*
Dua jari Selo Gunting yang gagal mengenai Rawa justru menghantam bongkahan batu cadas di belakangnya, membuat batu sebesar kerbau itu langsung hancur berkeping-keping menjadi debu halus.
Ayuhinda yang melihat kedahsyatan ilmu totokan tersebut langsung memekik ngeri, buru-buru mencari tempat perlindungan di balik celah batu yang aman.
"Rawa! Hati-hati! Jarinya bisa membuat tubuhmu berlubang!" teriak Ayuhinda manja sambil menggenggam Cincin Permata Kurum miliknya dengan cemas.
Selo Gunting tidak memberikan jeda sedikit pun; setelah serangannya gagal, dia langsung memutar tubuhnya dan melepaskan rentetan tusukan jari yang mengincar delapan titik saraf utama di tubuh Rawa.
Setiap tusukan jarinya mengeluarkan suara siulan angin yang melengking tinggi, tanda tenaga dalam bumi yang dia miliki sudah mencapai tingkat kesempurnaan.
Rawa Metang terpaksa mencabut Belati Ular Tatungkul lebih cepat, membiarkan pendaran cahaya hijau tuanya menyala membelah kegelapan kabut lereng ketiga.
Menggunakan teknik dasar *Tebasan Delapan Penjuru*, Rawa mulai menggerakkan bilah belatinya dengan konstan untuk menangkis setiap patukan jari Selo Gunting.
*TING! TING! TING!*
Benturan antara mata belati pusaka dan ujung jari Selo Gunting mengeluarkan percikan api yang sangat terang, disertai bunyi dentingan besi yang memekakkan telinga.
Rawa terkejut di dalam batinnya; kulit jari Selo Gunting ternyata sama sekali tidak terluka meskipun bergesekan langsung dengan pamor tajam Belati Tatungkul.
‘Luar biasa... kekuatan totokannya tidak hanya mengeras, tapi juga memancarkan energi penghancur yang bisa meretakkan bilah senjata,’ analisis Rawa dengan fokus yang kian menajam.
Selo Gunting menyeringai puas melihat Rawa mulai terdesak mundur. "Kikikik! Senjata pusakamu memang hebat, Bocah! Tapi tenaga dalammu belum cukup untuk menahan getaran penghancur batuku!"
Dengan satu teriakan melengking, Selo Gunting menyatukan kedua telapak tangannya, lalu menusukkan sepuluh jarinya ke depan secara bersamaan, membentuk sebuah proyeksi sepasang gunting batu raksasa gaib yang siap menjepit tubuh Rawa Metang hingga hancur.
---
### BAB 21: Tameng Emas Rambasena dan Utusan Seberang Lautan (1.040 Kata)
Proyeksi gunting batu raksasa milik Selo Gunting menderu maju, menghancurkan apa pun yang ada di jalur lintasannya dengan daya hancur yang mengerikan.
Rawa Metang terjebak di antara dua bongkahan batu besar, membuatnya tidak memiliki ruang yang cukup untuk melompat menghindar menggunakan ilmu langkah ular.
Di saat yang sangat kritis itu, sifat fokus Rawa menyatu dengan rasa tanggung jawabnya untuk melindungi Ayuhinda yang berada di belakangnya.
Rawa mengepalkan tangan kirinya, memanggil paksa sisa memori energi gaib yang bersemayam di dalam jiwanya. ‘Baruma... bangkit!’
*WZUUUUT!*
Merasakan bahaya besar yang mengancam sang pembawa belati, esensi gaib di dalam pusaka merespons dengan ledakan energi yang luar biasa.
Sesosok siluet raksasa **Singa Baruma** yang terbuat dari cahaya emas murni mendadak bangkit berdiri di depan tubuh Rawa, mengaum dahsyat hingga menggetarkan seluruh lereng ketiga.
Cahaya emas itu memadat membentuk sebuah tameng spiritual raksasa yang dihiasi ukiran wajah singa yang sangat berwibawa—wujud perlindungan sejati dari Raden Baruma Rambasena zaman kuno.
*BOOMMM!!!*
Gunting batu raksasa milik Selo Gunting menghantam tameng emas tersebut dengan kekuatan penuh, menciptakan ledakan cahaya kuning dan emas yang mengguncang lereng Tambora.
Selo Gunting terlempar mundur sejauh lima langkah, kedua tangannya bergetar hebat dan mengeluarkan darah segar akibat pantulan energi suci Singa Baruma.
"K-Kekuatan apa ini... Singa Emas?" bisik Selo Gunting dengan wajah pucat, menatap tameng cahaya yang perlahan memudar di depan Rawa.
Namun, sebelum Rawa sempat melakukan serangan balasan untuk menumbangkan Selo Gunting, sebuah anak panah berbulu putih salju melesat dari arah puncak gunung dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
*JLEB!*
Anak panah itu menancap tepat di atas batu cadas di antara Rawa dan Selo Gunting, memancarkan pendaran energi es dingin yang langsung membekukan tanah di sekitarnya dalam sekejap.
Dari balik kabut lereng atas, melangkah turun tiga orang prajurit mengenakan zirah besi perak yang sangat mewah, bersenjatakan busur panjang dan pedang bermata ganda yang asing.
Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang wanita cantik berambut pirang dengan tatapan mata biru sedingin es, mengenakan jubah beludru biru tua khas bangsawan dari **Kekaisaran Barat Seberang Lautan**.
Wanita asing itu memegang sebuah busur perak, matanya menatap remeh ke arah Selo Gunting dan Rawa Metang secara bergantian.
"Sungguh pertunjukan silat rendahan yang membosankan dari penduduk pribumi," ucap wanita asing itu dalam bahasa melayu yang kaku namun terdengar sangat angkuh.
"Sekte Tanduk Hitam terlalu lama menyelesaikan ritual ini. Kekaisaran Barat tidak akan membiarkan energi Istana Bawah Tanah jatuh ke tangan orang-orang tidak berguna seperti kalian."
Fokus Rawa Metang langsung terkunci pada lambang burung elang perak yang terukir di zirah dada wanita asing tersebut.
Sifat berhati-hatinya mendeteksi bahwa kekuatan orang-orang asing dari seberang lautan ini sangat berbeda dengan ilmu tenaga dalam Nusantara; mereka menggunakan energi alam murni yang dialirkan melalui senjata khusus.
Skala pertempuran di Gunung Tambora kini tidak lagi sekadar urusan balas dendam lokal,
melainkan telah bergeser menjadi perebutan kekuasaan kolosal antar-bangsa yang siap menumpahkan darah di atas tanah penuh bara.
Comments