==================================================================
### KISAH RAWA METANG: PENDEKAR BELATI TATUNGKUL
### Volume 6 (Bab 16, 17, dan 18)
==================================================================
### BAB 16: Jejak Tulang di Lereng Kedua (1.050 Kata)
Kekalahan Wana Segara di jalur barat membuat suasana lereng pertama Gunung Tambora menjadi sedikit lebih sunyi, namun Rawa tahu ini hanyalah ketenangan sebelum badai.
Rawa memasukkan kembali Belati Tatungkul ke dalam sarungnya, lalu berjalan mendekati bongkahan batu tempat Ayuhinda bersembunyi.
Gadis itu keluar dengan langkah pelan, mata bulatnya menatap Rawa dengan pandangan yang penuh rasa takjub sekaligus ngeri melihat bekas kehancuran tebing akibat pertarungan tadi.
"Rawa... kamu benar-benar seperti monster kalau sedang bertarung," bisik Ayuhinda dengan nada manja yang agak gemetar, merapatkan jubah cokelatnya yang berdebu.
Rawa tidak menanggapi pujian itu, dia hanya melirik lengan kiri Ayuhinda untuk memastikan cincin pusakanya masih aman di tempatnya.
"Jalan di depan akan semakin terjal. Kita harus mencapai lereng kedua sebelum matahari terbit jika tidak ingin dikepung oleh pasukan utama Hama Metak," ujar Rawa datar sambil mulai melangkah mendaki kembali.
Jalur menuju lereng kedua ini ternyata jauh lebih mengerikan; tanahnya tidak lagi berupa cadas hitam melainkan dipenuhi oleh serpihan tulang-tulang binatang purba yang memutih, tanda tempat ini sering dijadikan area pembantaian.
Sifat berhati-hati Rawa membuatnya menghentikan langkah setiap beberapa puluh meter, menempelkan telinganya ke tanah untuk mendengarkan getaran pergerakan musuh.
Tiba-tiba, dari arah atas jalur setapak, terdengar suara langkah kaki yang sangat berat, seolah-olah ada sebongkah batu raksasa yang dijatuhkan berulang kali ke tanah.
*BLAM! BLAM! BLAM!*
Kabut belerang di depan mereka terbelah oleh sesosok tubuh pria yang ukurannya dua kali lipat lebih besar dari manusia normal pada umumnya.
Pria itu bertelanjang dada, memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang keras seperti tembaga dan dipenuhi parut luka yang melintang ekstrem.
Di punggungnya, terikat sebuah gada besi berduri yang ukurannya sebesar batang pohon kelapa tua.
Pendekar raksasa ini adalah **Mahesa Kingkin**, sang jawara beraliran tenaga dalam bumi yang terkenal memiliki pertahanan tubuh yang tidak bisa ditembus oleh senjata tajam biasa.
"Kikikik! Wana Segara rupanya sudah mampus di tangan bocah ingusan ini," gelegar suara Mahesa Kingkin, membuat dedaunan kering di sekitar jalur pendakian bergetar rontok.
"Aku adalah **Mahesa Kingkin**, benteng pertahanan Sekte Tanduk Hitam! Langkah kalian untuk menginjakkan kaki di istana bawah tanah berakhir di dalam timbunan tulang lereng ini!"
Rawa Metang memicingkan matanya fokus, mendeteksi aliran tenaga dalam yang berpusat di kaki dan kulit Mahesa Kingkin yang berwarna cokelat gelap.
‘Ilmu kebal tingkat tinggi, berbasis pada pengerasan pori-pori kulit menggunakan esensi bumi kotor,’ batin Rawa menganalisis dengan cepat dan penuh perhitungan berhati-hati.
Rawa menarik napas teratur, meletakkan tangan kanannya di atas gagang Belati Tatungkul, bersiap menghadapi ujian ketajaman sejati dari pusaka ular miliknya di lereng kedua yang penuh dengan tulang memutih ini.
---
### BAB 17: Benturan Gada dan Logistik Cincin (1.080 Kata)
Tanpa memberikan aba-aba lebih lanjut, Mahesa Kingkin menarik gada besi raksasanya dari punggung dengan satu sentakan tangan yang sangat bertenaga.
Dia melompat ke udara, mengayunkan gada besi itu ke bawah menuju arah kepala Rawa Metang dengan kecepatan yang tidak sebanding dengan ukuran tubuh besarnya.
*BOOMMM!!!*
Rawa melompat mundur sejauh tiga langkah tepat waktu, membiarkan gada besi itu menghantam tanah tempatnya berdiri hingga menciptakan lubang sedalam satu meter yang menghancurkan serpihan tulang di sekitarnya.
Gelombang kejut dari hantaman tersebut membuat tanah lereng kedua bergetar hebat, menyebabkan Ayuhinda kehilangan keseimbangan dan terjatuh di dekat semak berduri.
"Aww! Kakiku!" jerit Ayuhinda manja karena pergelangan kaki kanannya terantuk batu tajam saat berusaha menghindari getaran tanah.
Mahesa Kingkin tertawa terbahak-bahak melihat kepanikan Ayuhinda. "Bocah lusuh! Kau sibuk melindungi putri manja itu sementara nyawamu sendiri sudah berada di ujung gadaku!"
Raksasa itu kembali mengayunkan gadanya secara horizontal, menciptakan badai angin puyuh kecil yang membawa debu belerang dan serpihan tulang tajam mengincar tubuh Rawa.
Sifat fokus Rawa membuatnya tidak panik, dia melirik sekilas ke arah Ayuhinda yang sedang meringis kesakitan memegangi kakinya.
"Ayuhinda! Keluarkan **Ramuan Pemulih Sendi Selo** dari dalam cincinmu sekarang! Gunakan itu untuk mengembalikan kekuatan kakimu!" seru Rawa di sela-sela gerakannya menghindari ayunan gada musuh.
Ayuhinda yang mendengar perintah Rawa langsung memejamkan mata fokus, menembus dimensi terdalam dari **Cincin Permata Kurum** miliknya demi mencari ramuan yang dimaksud.
*Ting!*
Sebuah botol giok berwarna hijau muda muncul di pangkuan Ayuhinda tanpa ada kesalahan dimensi logistik seperti hari-hari sebelumnya.
Gadis itu dengan cepat meminum isinya, dan seketika rasa hangat menjalar di pergelangan kakinya, menyembuhkan memar sendinya dalam hitungan detik.
"Aku bisa berdiri lagi, Rawa!" seru Ayuhinda kegirangan, wajah cantiknya kembali memancarkan binar semangat dari balik jubah cokelatnya.
Rawa yang melihat logistik pertempuran mereka berjalan lancar tanpa hambatan langsung mengukir senyuman tipis di sudut bibirnya.
"Bagus. Sekarang tetap di tempat aman, aku akan meretakkan kulit tembaga orang ini," ucap Rawa dingin, matanya kembali fokus seratus persen pada pergerakan Mahesa Kingkin.
Rawa mencabut Belati Ular Tatungkul sepenuhnya, membiarkan pendaran cahaya hijau tuanya menyatu dengan aura emas samar dari esensi Singa Baruma yang mulai mengamuk di dalam batin sang pendekar.
---
### BAB 18: Retaknya Kulit Tembaga (1.030 Kata)
Mahesa Kingkin melihat pendaran hijau di tangan Rawa dengan pandangan meremehkan. "Belati sekecil itu tidak akan bisa menggores seujung kuku kulit tembaga milikku, Bocah!"
Raksasa itu menerjang maju kembali, memutar gada besarnya membentuk perisai putaran angin yang sangat padat untuk menghancurkan tubuh Rawa dari depan.
Rawa Metang menarik napas dalam, memfokuskan seluruh tenaga dalam murninya bukan pada kekuatan otot, melainkan pada ketajaman titik fokus di ujung mata Belati Tatungkul.
Menggunakan teknik ketiga dari Kitab Tebasan Delapan Penjuru—**Tebasan Membelah Bumi**—Rawa melangkah maju menantang putaran gada besi tersebut dengan sifat berhati-hatinya yang ekstrem.
Gerakan belati Rawa tidak lagi meliuk seperti ular, melainkan bergerak lurus, patah-patah, mengikuti garis retakan gaib yang ada di aliran tenaga dalam bumi milik Mahesa Kingkin.
*CRANGGG!!!*
Mata Belati Tatungkul menusuk tepat di sela-sela duri gada besi milik Mahesa Kingkin, menyalurkan energi suci hijau tua yang langsung menghentikan putaran senjata raksasa tersebut di udara.
Mahesa Kingkin terbelalak melihat gadanya tertahan oleh sebilah belati kecil, namun sebelum dia sempat menarik senjatanya, Rawa sudah memutar tubuhnya ke samping kiri.
*Sreeet! Jleb!*
Dengan kecepatan kilat, Rawa melakukan tiga kali tebakan beruntun menggunakan ujung belati ular, mengincar tiga titik pusar aliran tenaga dalam kebal Mahesa Kingkin di bawah ketiak, lambung, dan belakang lutut kirinya.
*ANGGG!*
Suara dengungan keras keluar dari tubuh Mahesa Kingkin saat energi emas **Singa Baruma** mini melesat masuk ke dalam tiga luka goresan tipis yang dibuat oleh Rawa.
"AAAGHH! Tenaga dalamku... pori-poriku menolak mengeras!" jerit Mahesa Kingkin kesakitan saat kulit tembaganya mulai retak-retak mengeluarkan darah segar akibat penolakan energi murni sang singa sakti.
Gada besi raksasa di tangannya terlepas, jatuh menghantam tanah dengan bunyi dentuman keras yang menandakan berakhirnya kejayaan sang benteng pertahanan Sekte Tanduk Hitam.
Mahesa Kingkin berlutut di atas hamparan tulang lereng kedua, tubuh raksasanya bergetar hebat sebelum akhirnya jatuh tersungkur ke depan, pingsan akibat kehabisan tenaga dalam hitamnya yang dihancurkan oleh Rawa.
Rawa Metang berdiri tegak di samping tubuh raksasa yang tumbang itu, napasnya tetap teratur meskipun keringat dingin mulai membasahi pelipisnya karena penggunaan energi Baruma yang cukup besar.
Dia menyarungkan kembali Belati Tatungkul, lalu menatap ke arah jalur pendakian lereng ketiga yang semakin diselimuti oleh kegelapan awan hitam mistis di atas puncak Tambora.
"Aman. Kita lanjutkan pendakian sebelum sisa pasukan mereka menyadari runtuhnya benteng ini," ucap Rawa datar, berbalik menatap Ayuhinda yang berjalan mendekat dengan rasa aman yang kian mendalam di hatinya.
Takdir terus menuntut balas, dan langkah sang Pendekar Belati Tatungkul kini sudah semakin dekat dengan gerbang rahasia istana bawah tanah tempat Kahinda berada.

Comments