==================================================================
### KISAH RAWA METANG: PENDEKAR BELATI TATUNGKUL
### Volume 5 (Bab 13, 14, dan 15)
==================================================================
### BAB 13: Kedai Bambu di Kaki Gunung (1.060 Kata)
Langkah kaki Rawa Metang membelah debu gersang di pinggiran desa kaki Gunung Tambora, diikuti Ayuhinda yang berjalan cepat di belakangnya.
Matahari siang terasa begitu menyengat, membuat hawa belerang yang keluar dari tanah semakin pekat dan menyesakkan dada.
Sifat dasarnya yang selalu berhati-hati membuat Rawa memilih menjauhi pasar utama dermaga yang dipenuhi oleh mata-mata Rusuk Balilung.
Dia mengarahkan langkahnya menuju sebuah kedai tua berdinding bambu rajut yang berdiri sepi di bawah pohon randu alas yang kering.
Sebuah papan kayu reyot tergantung di depan pintu kedai, bertuliskan nama yang samar: "Kedai Alas Giri".
Rawa mendorong pintu bambu tersebut perlahan, membiarkan bunyi derit halusnya menyatu dengan kesunyian di dalam ruangan.
Di dalam kedai, hanya ada seorang lelaki tua bertubuh kurus yang sedang sibuk mengelap meja kayu menggunakan kain kumal.
"Selamat datang, Pengembara," sapa lelaki tua itu dengan suara serak, matanya yang redup melirik sekilas ke arah jubah cokelat Rawa dan Ayuhinda.
Rawa tidak langsung menjawab, dia memilih meja paling sudut yang dekat dengan jendela belakang agar bisa memantau jalur pelarian jika terjadi bahaya.
"Berikan kami dua mangkuk nasi putih, ikan bakar, dan air kendi yang dingin, Paman," ujar Rawa datar sambil meletakkan sepinggan koin perak di atas meja.
Ayuhinda langsung duduk di seberang Rawa, mengembuskan napas panjang sambil mengipasi wajahnya yang memerah karena terik matahari.
"Gila, tempat ini panas sekali, Rawa! Kulitku rasanya bisa mengelupas kalau terus-menerus berjalan di bawah matahari ini," keluh Ayuhinda dengan nada manja andalannya.
Rawa memicingkan matanya fokus, menaruh telunjuk di bibirnya. "Jaga mulutmu, Putri. Tempat ini memiliki telinga di setiap dinding bambunya."
Lelaki tua pemilik kedai datang membawa pesanan mereka dengan langkah kaki yang agak pincang.
Namun, indra pendengaran Rawa yang tajam menangkap keanehan; meskipun pincang, berat langkah kaki lelaki tua itu sama sekali tidak mengguncang lantai papan kedai.
‘Orang ini menyembunyikan tenaga dalam tingkat tinggi di kakinya,’ batin Rawa waspada, tangannya diam-diam merapat ke gagang Belati Tatungkul di balik jubah.
Saat meletakkan kendi air, lelaki tua itu tiba-tiba menatap lekat ke arah jari manis Ayuhinda, lalu berbisik tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang keriput.
"Jika kalian ingin mendaki Tambora dengan membawa cincin pusaka yang mencolok itu, sebaiknya urungkan niat. Sekte Tanduk Hitam sedang memburu benda itu, dan darah kalian bisa mengering bahkan sebelum sampai di lereng pertama."
Ayuhinda tersentak kaget, hampir saja menjatuhkan sendok kayunya, sementara fokus Rawa terkunci sepenuhnya pada mata sang pemilik kedai.
"Siapa kau? Dan bagaimana kau bisa mengenali cincin ini?" tanya Rawa rendah, mengalirkan tenaga dalam murninya hingga membuat pendaran hijau di pinggangnya bergetar tipis.
Lelaki tua itu tersenyum tipis, memperlihatkan deretan giginya yang sudah tidak utuh lagi.
"Namaku **Akar Kalasan**. Dulu aku adalah pendekar pelarian dari tanah Jawa yang memilih menyembunyikan sisa umurku di kaki gunung terkutuk ini. Siapa yang tidak kenal bentuk Cincin Permata Kurum milik Kerajaan Barat?"
"Sekte Tanduk Hitam dan pasukan bayaran Hama Metak telah menutup semua jalur pendakian sejak tiga hari lalu hanya untuk mencari pembawa cincin itu," lanjut Akar Kalasan pelan.
"Mereka dipimpin oleh seorang pendekar kejam bernama **Wana Segara**, si ahli pedang arus kotor yang terkenal tidak pernah menyisakan nyawa musuhnya."
Rawa mendengarkan informasi itu dengan cermat, sifat berhati-hatinya menimbang setiap risiko dari nama baru yang baru saja dia dengar.
"Aku tidak peduli siapa yang menutup jalur itu, Paman," jawab Rawa dingin, matanya memancarkan tekad balas dendam yang membara. "Utang darah Guru Warka Palunglas harus dibayar di puncak gunung ini."
---
### BAB 14: Hadangan Pedang Arus Kotor (1.080 Kata)
Malam harinya, suasana di kaki Gunung Tambora berubah menjadi gelap gulita, diselimuti oleh kabut belerang yang turun dari puncak kawah.
Rawa Metang dan Ayuhinda mulai bergerak mendaki melalui jalur tikus di sebelah barat yang ditunjukkan oleh Akar Kalasan sebelum mereka pergi.
Jalur ini dipenuhi oleh batu cadas hitam yang tajam dan semak berduri, membuat perjalanan berjalan sangat lambat dan melelahkan.
Sifat berhati-hati Rawa membuatnya berjalan paling depan, menebas semak belukar menggunakan sebilah ranting kayu yang dilapisi tenaga dalam tipis agar tidak menimbulkan pendaran cahaya hijau Belati Tatungkul.
Tiba-tiba, getaran aneh muncul dari dalam tanah yang mereka injak, disusul oleh suara gemercik air yang tidak wajar di tempat sekering ini.
"Rawa... tunggu! Kenapa sepatuku mendadak basah?" bisik Ayuhinda panik, merapatkan tubuh manjanya ke punggung tegap Rawa.
Dari balik kegelapan kabut di depan mereka, seberkas pendaran energi berwarna biru keruh melesat membelah udara kering lereng Tambora.
*SREEEET!*
Sebuah tebasan pedang berenergi air menghantam batu cadas tepat di depan kaki Rawa, membuat batu besar itu terbelah menjadi dua bagian dengan potongan yang basah.
"Kikikik! Sungguh tikus-tikus yang cerdas, memilih jalur barat yang terjal," sebuah suara berat bergema dari balik kabut hitam.
Sesosok pria bertubuh semampai melangkah keluar, mengenakan jubah biru laut yang kontras dengan lingkungan gunung yang gersang.
Di tangan kanannya, tergenggam sebilah pedang panjang yang bilahnya terus mengeluarkan tetesan air berwarna hitam pekat berbumbu racun.
Pria itu adalah **Wana Segara**, pendekar sakti golongan hitam yang ditugaskan menjaga jalur barat lereng Tambora oleh Hama Metak.
"Serahkan Cincin Permata Kurum dan Belati Ular itu sekarang, atau aku akan mengubah darah kalian menjadi aliran air kotor di bawah kakiku!" ancam Wana Segara kejam.
Sifat fokus Rawa bangkit seratus persen, dia mendorong Ayuhinda ke balik bongkahan batu besar di samping jalur pendakian.
"Gunakan ramuan pelindung jiwa dari Mbah Bulus sekarang, Ayuhinda. Jangan hirup kabut air di sekitar orang ini," perintah Rawa cepat tanpa menengok.
Ayuhinda dengan gemetar menyentuk Cincin Kurum miliknya, mengeluarkan sebuah botol keramik kecil berisi cairan herbal wangi untuk dia minum.
Rawa melangkah maju dua langkah, tangan kanannya mencengkeram erat gagang Belati Ular Tatungkul yang mulai bergetar hebat di pinggangnya.
"Wana Segara... pedang air kotormu tidak akan bisa membersihkan noda darah yang ditinggalkan oleh Rusuk Balilung di gubuk guruku," ucap Rawa dengan nada suara yang sangat datar namun menekan.
Wana Segara mendengus marah mendengarkan ketenangan Rawa. "Bocah ingusan! Rasakan **Ilmu Pedang Arus Durjana** milikku!"
Pria berjubah biru itu melompat maju, mengayunkan pedangnya secara beruntun hingga menciptakan belasan gelombang tebasan air hitam yang melesat memutar dari berbagai arah, mengunci posisi berdiri Rawa Metang.
---
### BAB 12: Tebasan Membelah Ombak (1.040 Kata)
Gelombang tebasan air hitam milik Wana Segara menderu membelah malam, merusak batuan cadas di sekitar jalur pendakian dengan daya korosi yang sangat tinggi.
Rawa Metang tetap tenang di posisinya, sifat berhati-hatinya membuat dia tidak memilih untuk beradu kekuatan tenaga dalam secara langsung.
Dia menarik napas dalam-dalam, menyinkronkan batinnya dengan esensi Belati Ular Tatungkul yang kini telah dia cabut sepenuhnya dari sarung kulitnya.
*Sreeet!*
Cahaya hijau tua memancar terang, mengusir kegelapan kabut belerang di sekitar mereka dalam sekejap.
Rawa mulai menggerakkan kakinya, menerapkan bagian kedua dari Kitab Tebasan Delapan Penjuru yang dia latih selama di atas kapal naga perak.
Gerakan tubuh Rawa mendadak menjadi sangat lentur, meliuk-liuk di antara celah gelombang air hitam seperti seekor ular yang menembus riak sungai.
*TING! TING! BUKK!*
Setiap kali mata pedang Wana Segara mendekat, Rawa mematahkan momentum serangan tersebut dengan ketukan ujung belatinya yang dilapisi tenaga dalam murni.
Wana Segara terkejut melihat bagaimana ilmu pedang andalannya yang biasa menenggelamkan musuh dengan mudah, kini bisa dilewati oleh Rawa tanpa setetes air pun mengenai jubah cokelat lusuhnya.
"Bagaimana mungkin?! Gerakan silatmu... dari mana kau mendapatkan ilmu langkah ular jahanam ini?!" teriak Wana Segara mulai kehilangan fokus akibat rasa frustrasi.
Rawa tidak membuang waktu untuk menjawab, sifat fokusnya melihat sebuah celah terbuka lebar di bawah ketiak kiri Wana Segara saat pria itu mengayunkan pedangnya terlalu lebar.
Rawa menyentak tenaganya, melompat maju dengan satu tusukan lurus yang sangat cepat mengincar titik saraf di bahu musuh.
Wana Segara yang menyadari bahaya tersebut buru-buru menarik pedangnya kembali untuk menahan tusukan Rawa di depan dadanya.
*BOOMMM!!!*
Benturan energi hijau tua milik Rawa dan energi biru keruh milik Wana Segara menciptakan ledakan udara yang cukup keras di lereng gunung.
Namun, di dalam benturan itu, Rawa membisikkan satu perintah rahasia dari batinnya. ‘Baruma, hancurkan ombaknya!’
Seketika, pendaran cahaya keemasan berbentuk cakar **Singa Baruma** raksasa keluar dari bilah Belati Tatungkul, mencengkeram energi air kotor milik Wana Segara hingga menguap menjadi asap putih.
*CRACK!*
Pedang panjang milik Wana Segara retak menjadi tiga bagian, dan tubuh pendekar golongan hitam itu terlempar keras menghantam tebing batu hingga memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Wana Segara terduduk lemas di tanah dengan wajah pucat pasi, menatap Rawa yang berdiri tegap di depannya dengan belati hijau yang masih berpendar tenang tanpa noda sedikit pun.
"Kau... kau bukan pendekar biasa..." bisik Wana Segara dengan sisa tenaganya, sebelum akhirnya pingsan tak sadarkan diri di bawah dinginnya kabut malam Tambora.
Comments