==================================================================
### KISAH RAWA METANG: PENDEKAR BELATI TATUNGKUL
### Volume 4 (Bab 10, 11, dan 12)
==================================================================
### BAB 10: Badai Baja di Selat Alas (1.060 Kata)
Angin malam di Selat Alas berembus semakin kencang, membawa suara gemuruh ombak yang menghantam lambung kapal dagang naga perak.
Di atas dek yang basah oleh cipratan air laut, empat orang perompak Sigung Laut mulai mengepung Rawa Metang dari berbagai sudut.
Pedang pendek mereka yang berlumur racun hijau berkilat seram di bawah temaram cahaya bulan sabit.
Rawa tetap berdiri kokoh, membiarkan jubah cokelat lusuhnya berkibar liar menantang angin.
Sifat dasarnya yang selalu fokus membuat Rawa tidak terburu-buru melakukan serangan pertama.
Dia memindai pergerakan kaki musuh, menghitung ritme goyangan kapal untuk mencari momentum yang paling akurat.
"Jangan banyak bicara, cepat ringkus bocah ini sebelum penjaga kapal terbangun!" bisik pemimpin perompak dengan nada penuh kebencian.
Dua perompak dari sisi kanan langsung melompat maju, mengayunkan pedang beracun mereka membentuk silangan maut yang mengincar leher Rawa.
Menghadapi serangan kilat itu, Rawa menarik napas dalam-dalam, menyalurkan tenaga dalam murninya ke pergelangan tangan kanan.
Sreeet!
Belati Ular Tatungkul dicabut dari sarungnya, memancarkan pendaran cahaya hijau tua yang membelah kegelapan malam samudra.
Menggunakan teknik defensif dari Kitab Tebasan Delapan Penjuru, Rawa tidak menangkis benturan pedang itu secara kasar.
Dia meliukkan badannya rendah, membiarkan kedua mata pedang musuh lewat satu senti di atas tudung jubahnya.
Secara bersamaan, tangan kanan Rawa yang memegang belati bergerak memutar dengan kecepatan yang mengagumkan.
TING! TING!
Dua ujung pedang beracun milik perompak itu patah seketika saat bergesekan dengan pamor hijau suci Belati Tatungkul.
Sebelum musuhnya sempat menyadari apa yang terjadi, Rawa melesat maju dan mendaratkan dua totokan jari yang sangat keras di ulu hati mereka.
"Ugh..." Kedua perompak itu langsung terjerembap ke atas lantai dek, tubuh mereka kaku dan tidak bisa menggerakkan seujung jari pun.
Melihat dua rekannya tumbang dalam sekejap tanpa sempat berteriak, pemimpin perompak mulai panik.
Dia meraba pinggangnya, berniat mencabut sebuah peluit bambu untuk memanggil bantuan dari perahu kecil mereka yang bersembunyi di balik karang.
Sifat berhati-hati Rawa tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Rawa menyentak batinnya, memanggil esensi gaib yang bersemayam di dalam pusakanya. ‘Baruma, bungkam mereka!’
Desiran energi keemasan tipis melesat dari bilah belati, membentuk siluet cakar Singa Baruma tak kasat mata yang langsung menyambar peluit bambu tersebut hingga hancur menjadi serbuk.
Pemimpin perompak itu melongo ketakutan, merasa bahwa pemuda di depannya ini bukanlah manusia biasa melainkan iblis laut.
Rawa melangkah mendekat tanpa suara, membalikkan gagang belatinya, dan memukul pelipis sang pemimpin hingga pingsan seketika.
Kelima perompak kini telah dilumpuhkan total di atas dek, menjaga keheningan kapal naga perak tetap aman dari keributan besar.
Rawa menghela napas teratur, menyarungkan kembali belati ularnya, lalu berbalik menuju koridor kabin bawah dengan kewaspadaan yang tetap terjaga seratus persen.
---
### BAB 11: Rahasia di Balik Gaun Merah (1.150 Kata)
Rawa mendorong pintu kayu kamar kabin dengan perlahan, mendapati Putri Ayuhinda sedang duduk tegang di atas tempat tidur sambil memeluk bantalnya erat-erat.
Mata bulat gadis itu langsung berbinar lega saat melihat sosok tegap Rawa kembali dalam keadaan utuh tanpa luka sedikit pun.
"Rawa! Bagaimana di luar? Apakah orang-orang jahat itu sudah pergi?" tanya Ayuhinda dengan nada manja yang bercampur rasa cemas yang amat sangat.
Rawa menutup pintu kembali, lalu berdiri bersandar di dekat jendela kabin tanpa berniat untuk duduk.
"Semua sudah dilumpuhkan. Mereka adalah kelompok perompak Sigung Laut, kaki tangan organisasi Hama Metak," jawab Rawa datar, matanya fokus menatap wajah sang putri.
Sifat berhati-hati Rawa membuatnya tidak bisa menahan pertanyaan ini lebih lama lagi.
"Mereka tidak mengincar barang dagangan kapal ini, Ayuhinda. Mereka mencarimu, atau lebih tepatnya, mereka mencari benda di jarimu."
Ayuhinda tersentak, refleks menyembunyikan tangan kanannya yang dihiasi Cincin Pusaka Permata Kurum ke balik jubah cokelatnya.
Wajah cantiknya berubah menjadi ragu, bibirnya digigit kecil menahan rahasia yang selama ini dia simpan rapat-rapat dari dunia luar.
Rawa tetap diam, memberikan tekanan mental melalui tatapannya yang dingin dan tidak bisa dibantah oleh siapa pun.
"Baiklah, baiklah! Dasar pendekar kaku tidak sabaran!" ketus Ayuhinda akhirnya menyerah, menurunkan bantalnya dan menghela napas panjang.
Gadis itu memajukan tubuhnya, menatap Rawa dengan ekspresi yang mendadak berubah menjadi sangat serius, menghilangkan kesan manjanya sejenak.
"Kamu benar, Rawa. Mereka mengejarku bukan cuma karena aku anak bangsawan dari kerajaan barat."
Ayuhinda mengangkat jari manisnya, membuat batu permata legam di Cincin Kurum memancarkan pendaran cahaya perak yang redup di dalam kabin.
"Cincin ini... bukan sekadar alat penyimpanan dimensi gaib tempatku menaruh logistik pakaian, makanan, atau ramuan obat dari Mbah Bulus Rambat."
Mendengar nama 'Mbah Bulus Rambat' disebut oleh mulut sang putri, mata Rawa langsung memicing kilat.
Sifat fokus dan penuh curiga milik Rawa bangkit seketika. Langkah kakinya bergerak cepat, mendekati tempat tidur lalu menatap Ayuhinda dengan tatapan yang sangat menekan.
"Dari mana kau tahu nama Mbah Bulus Rambat?" tanya Rawa, suaranya mendadak berubah menjadi sangat rendah dan mengintimidasi, membuat Ayuhinda tersentak kaget.
Ayuhinda memundurkan tubuhnya sedikit karena takut melihat perubahan aura Rawa yang begitu drastis.
"Kenapa kau membentakku?! Mbah Bulus itu adalah tabib agung dan tetua sakti yang dulu sering datang ke istana kerajaan barat untuk mengobati ayahku! Dialah yang meramu obat-obatan pelindung jiwa di dalam cincinku ini!" bela Ayuhinda dengan nada manja yang kesal karena diinterogasi.
Rawa tertegun di tempatnya berdiri, perlahan memundurkan langkahnya kembali ke dekat jendela setelah menyadari kebenaran ucapan sang putri.
‘Takdir macam apa ini... Mbah Bulus ternyata punya hubungan masa lalu dengan keluarga kerajaan gadis ini,’ batin Rawa takjub dalam diam, namun dia tetap menjaga ekspresi wajahnya agar tetap datar.
Melihat Rawa diam, Ayuhinda mendengus pelan lalu melanjutkan penjelasannya yang tertunda.
"Di dalam ruang dimensi terdalam cincin ini, ayahku menyembunyikan sebuah peta kuno atas saran dari Mbah Bulus juga sebelum beliau pergi mengembara ke tanah Jawa. Peta yang menunjukkan jalan menuju gerbang Istana Bawah Tanah di lereng Gunung Tambora."
Mendengar kelanjutan kisah itu, fokus Rawa kembali terkunci pada misi utamanya.
"Menurut legenda keluarga kami, di dalam istana kuno itu tersimpan inti energi magis purba yang bisa membangkitkan kekuatan kegelapan tanpa batas," lanjut Ayuhinda dengan suara yang agak bergetar.
"Organisasi Rusuk Balilung dan Hama Metak ingin merebut cincin ini untuk membuka gerbang tersebut. Mereka butuh peta ini, dan mereka juga butuh seorang gadis suci sebagai wadah tumbal energinya."
Jantung Rawa berdegup kencang saat kepingan teka-teki ini mulai menyatu sempurna tanpa ada yang bolong lagi.
Gadis suci yang dijadikan wadah mistis... desas-desus yang diceritakan oleh Mbah Bulus Rambat tentang Kahinda Ayurisi kini memiliki benang merah yang sangat kuat dengan pelarian Ayuhinda.
Rusuk Balilung tidak hanya menawan Kahinda untuk balas dendam lama, tapi mereka sedang mempersiapkan ritual besar di dalam perut Gunung Tambora menggunakan peta dari Cincin Kurum!
Rawa mengepalkan tangannya kuat-kuat, hawa kemarahan atas kematian Guru Warka Palunglas kembali bergejolak di dada kirinya.
"Seknow kamu sudah tahu rahasia besarku, Pendekar Lusuh," ucap Ayuhinda, matanya menatap Rawa dengan pendaran harapan yang dalam. "Jadi, kamu tidak akan meninggalkanku sendirian di Sumbawa nanti, kan?"
Rawa menatap Ayuhinda, sifat protektifnya kini selaras dengan fokus misinya. "Aku akan menjagamu sampai gerbang Tambora, Putri. Bukan karena cincinmu, tapi karena di u
jung peta itu, ada nyawa para pembunuh guruku yang harus dicabut."
---
### BAB 12: Daratan Penuh Bara (1.040 Kata)
Fajar menyingsing di ufuk timur, memecah kegelapan malam dengan semburat warna jingga kemerahan yang membakar langit Pulau Sumbawa.
Kapal dagang naga perak perlahan menurunkan kecepatannya, membuang sauh besar di sekitar dermaga utara yang terletak di kaki daratan baru.
Rawa Metang berdiri di tepi pagar dek atas, memandangi siluet raksasa yang berdiri megah di kejauhan menembus kabut pagi.
Gunung Tambora. Sebuah gunung api purba yang tampak tenang di permukaan, namun memancarkan aura mistis pekat yang membuat bulu kuduk merinding.
Aroma belerang yang samar bercampur dengan bau tanah kering mulai tercium oleh hidung Rawa yang tajam.
Sifat dasarnya yang selalu berhati-hati membuat Rawa bisa merasakan bahwa tanah di bawah sana tidaklah seramah Pulau Jawa.
Ada getaran hawa kotor yang sangat kuat merayap di sepanjang lereng gunung, tanda bahwa wilayah ini sudah sepenuhnya dikuasai oleh Sekte Tanduk Hitam dan Hama Metak.
"Wah... jadi ini tempatnya? Kelihatan sangat menyeramkan dan gersang," ujar Ayuhinda yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Rawa, memandangi gunung dengan wajah cemas.
Gadis itu kini sudah memakai jubah cokelatnya kembali dengan rapi, menutupi gaun sutra merahnya agar tidak memancing perhatian kuli pelabuhan lokal.
"Jaga fokusmu, Ayuhinda. Begitu kaki kita menginjak tanah itu, kita sudah resmi masuk ke dalam sarang serigala," peringat Rawa dengan nada suara yang rendah.
Para pengawal kapal mulai menurunkan tangga kayu, bersiap membongkar muatan logistik yang dibawa dari tanah Jawa.
Rawa melangkah turun terlebih dahulu dengan gerakan yang konstan dan waspada, diikuti oleh Ayuhinda yang berjalan kecil di belakangnya sambil memegangi ujung jubah Rawa.
Dermaga utara Sumbawa ini tampak sangat sibuk, namun ada atmosfer ketakutan yang aneh di antara para penduduk lokal yang bekerja.
Matanya yang fokus menangkap kehadiran beberapa pria bertubuh kekar dengan tato lambang patahan tulang rusuk di leher mereka yang sedang berdiri memantau di sudut pasar dermaga.
Mata-mata Rusuk Balilung ternyata sudah tersebar bahkan sebelum mereka mulai mendaki jalur pegunungan.
Rawa menarik tudung jubah cokelatnya lebih rendah, menyembunyikan wajahnya dan pendaran Belati Tatungkul di pinggangnya dengan sempurna.
Sumpah darah untuk membalas kematian Guru Warka Palunglas dan menyelamatkan Kahinda kini telah membawanya sampai ke titik awal pertempuran yang sesungguhnya.
"Kita cari penginapan kecil di pinggiran desa terlebih dahulu sebelum menyusun rencana pendakian malam hari," bisik Rawa tanpa menengok ke belakang.
Ayuhinda hanya mengangguk patuh, merapatkan tubuhnya di balik punggung tegap Rawa saat mereka mulai membelah kerumunan daratan penuh bara tersebut.
Comments