==================================================================
KISAH RAWA METANG: PENDEKAR BELATI TATUNGKUL
Volume 3 (Bab 7, 8, dan 9)
Standardisasi: Minimal 1.000 Kata per Bab
==================================================================
### BAB 7: Kesepakatan di Bawah Angin Malam (1.050 Kata)
Sisa asap hitam dari bom asap Nini Rusuh perlahan memudar, disapu oleh angin malam yang berembus dingin dari arah laut. Di tepi hutan perbatasan yang sunyi itu, atmosfer terasa begitu tegang. Rawa Metang berdiri tegak dengan lengan kiri yang mulai membiru akibat menahan hantaman tongkat tengkorak, sementara matanya yang hitam legam menatap tajam ke arah Putri Ayuhinda Malapa yang masih terduduk lemas di tanah.
Ayuhinda meremas ujung gaun sutra merahnya yang kini dipenuhi noda tanah. Keangkuhan dan kemanjaannya yang biasa terpancar di pelabuhan mendadak luntur, tergantikan oleh rasa bersalah yang amat sangat. Dia tahu, jika pemuda berjubah lusuh di depannya ini tidak bertindak cepat, nyawanya mungkin sudah melayang di ujung tongkat beracun nenek bungkuk tadi.
"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Rawa, suaranya terdengar sangat rendah, datar, namun dingin menusuk tulang. Sifat dasarnya yang selalu berhati-hati membuat Rawa menaruh curiga. Apakah gadis ini sengaja dikirim untuk mengacaukan fokusnya, atau memang dia murni pembawa sial?
Ayuhinda mendongak, bibirnya yang mungil agak gemetar sebelum akhirnya dia mencoba menegakkan punggungnya, berusaha mengembalikan sisa-sisa harga dirinya sebagai seorang putri. "Aku tidak bermaksud mengikutimu, Pendekar Lusuh! Kapal dagang keluargaku tertahan di dermaga karena urusan manifes kerajaan. Lalu... lalu orang-orang kasar dari pelabuhan tadi tiba-tiba mengepung dermaga lagi. Aku panik, jadi aku lari ke arah hutan ini. Aku tidak tahu kalau di sini ada nenek sihir gila!"
Rawa tidak langsung memercayai ucapan itu. Matanya memicing fokus, memindai ekspresi wajah Ayuhinda. Namun, tidak ada kebohongan di sana; yang ada hanyalah ketakutan murni seorang gadis manja yang terlempar ke kerasnya dunia persilatan.
Rawa menghela napas panjang dalam hati. ‘Warka Palunglas mengajarkan aku untuk melindungi yang lemah, tapi Mbah Bulus mengingatkan aku untuk menjauhi masalah. Gadis ini adalah perpaduan sempurna dari keduanya,’ dumel Rawa pasrah.
"Kau menodai fokus perjalananku, Putri," ucap Rawa sambil merobek sisa jubah cokelatnya yang bersih untuk membalut lengan kirinya yang cedera dengan cekatan. "Tujuan hidupku adalah membalas utang darah ke arah timur. Aku tidak punya waktu untuk menjadi pengawal pribadi seorang gadis manja."
Mendengar kata 'timur', mata bulat Ayuhinda mendadak berbinar. Dia langsung bangkit berdiri, meskipun kakinya yang dibungkus sepatu sutra masih agak gemetar. "Timur? Kau mau ke wilayah timur? Ke Sumbawa? Ke lereng Tambora?!"
Rawa tidak menjawab, namun keterdiamannya adalah jawaban pasti bagi Ayuhinda.
Gadis itu langsung melangkah maju, memamerkan Cincin Permata Kurum di jari manisnya dengan bangga. "Jika kau mau ke timur, kau butuh kapal yang cepat dan aman dari endusan mata-mata! Kapal dagang perak milik keluargaku memiliki jalur khusus yang bebas dari pemeriksaan pelabuhan. Aku bisa membawamu naik ke kapal itu secara gratis, asalkan... asalkan kau menjamin keselamatanku sampai kita menginjakkan kaki di tanah Sumbawa!"
Rawa tertegun sejenak. Otaknya yang selalu memperhitungkan risiko langsung bekerja cepat. Menggunakan jalur darat atau kapal biasa pasti akan memakan waktu lama dan rawan dicegat oleh jaringan Hama Metak yang menyebar seperti wabah. Kapal dagang pribadi milik keluarga Ayuhinda adalah pilihan paling logis dan efisien untuk memangkas waktu perjalanan demi menyelamatkan Kahinda.
"Satu syarat," ujar Rawa dingin, menunjuk wajah Ayuhinda dengan jarinya. "Di atas kapal, kau harus mematuhi semua perintahku. Jangan bertindak ceroboh, dan yang paling penting... jaga mulutmu agar tidak merusak fokusku."
Ayuhinda cemberut mendengar syarat terakhir, namun rasa takutnya pada hutan yang gelap membuatnya cepat-cepat mengangguk. "Baiklah, sepakat! Dasar pendekar kaku!"
Tanpa membuang waktu lebih lama, keduanya berbalik arah, berjalan cepat menembus kegelapan malam kembali menuju area dermaga tersembunyi. Takdir telah mengunci kesepakatan mereka, mengikat sang Pendekar Belati Tatungkul dengan si putri beban dalam satu bahtera yang sama menuju tanah penuh bara.
---
### BAB 8: Mengasah Bilah di Tengah Samudra (1.080 Kata)
Tiga hari telah berlalu sejak kapal dagang mewah berlambang naga perak itu bertolak dari Pelabuhan Tanjung Perak. Kini, kapal sedang membelah ombak biru Laut Jawa yang luas, bergerak mantap menuju arah tenggara. Angin laut bertiup kencang, menggembungkan layar-layar sutra putih dan membawa hawa asin yang menyegarkan.
Di bagian dek paling belakang kapal yang sepi, Rawa Metang berdiri tegap membelakangi matahari terbenam. Jubah cokelat lusuhnya berkibar-kibar liar ditiup angin laut. Sifat dasarnya yang selalu fokus membuat Rawa tidak menggunakan waktu perjalanan ini untuk bersantai. Di atas lantai kayu kapal yang terus bergoyang dihantam ombak, Rawa sedang melatih keseimbangan tubuhnya.
Tangan kanannya menggenggam Belati Ular Tatungkul yang belum dicabut dari sarungnya. Namun, di dalam ulu hatinya, aliran tenaga dalam murni sedang berputar dengan ritme yang sangat cepat. Rawa sedang mencoba memahami bait-bait awal dari Kitab Tebasan Delapan Penjuru Tatungkul, sebuah ilmu warisan tingkat tinggi yang sempat diberikan oleh Mbah Bulus Rambat sebelum dia berangkat.
‘Tebasan delapan penjuru bukan sekadar memotong ke delapan arah mata angin,’ batin Rawa, matanya terpejam erat, menyinkronkan detak jantungnya dengan irama deburan ombak di bawah lambung kapal. ‘Ini adalah tentang bagaimana membagi fokus pikiran menjadi delapan bagian yang sama tajamnya secara bersamaan, tanpa kehilangan kewaspadaan pada satu titik pun.’
Rawa menarik napas dalam-dalam. Sifat berhati-hatinya membuat dia memulai latihan dari gerakan batin terlebih dahulu. Dia mengalirkan tenaga dalamnya yang berwarna hijau tua menyusuri jalur meridian lengan kanannya.
Sreeet!
Bilah belati ular itu dicabut setengah jengkal. Seketika, aura hijau mistis memancar tipis, memotong aliran angin laut di sekitar dek. Di saat yang sama, seberkas energi keemasan yang sangat halus mulai merayap keluar dari lekukan bilah belati—itu adalah tanda bahwa esensi Singa Baruma yang bersemayam di dalam senjata tersebut mulai selaras dengan tenaga dalam Rawa.
Rawa mulai menggerakkan kakinya. Langkahnya meliuk rendah, meniru gerakan ular laut yang menghindari hantaman karang. Setiap kali tubuh kapal miring karena ombak besar, Rawa justru menggunakan kemiringan itu untuk menambah kecepatan tebasan bayangannya. Tangannya bergerak cepat, menusuk dan menebas ke delapan penjuru mata angin di udara kosong dengan presisi matematis.
"Wah, wah! Berlatih terus sampai lupa makan ya, Pendekar Kaku?" sebuah suara manja yang familiar membuyarkan konsentrasi Rawa.
Rawa menghentikan gerakannya seketika, langsung menyarungkan belatinya dengan kecepatan yang nyaris tak terlihat oleh mata biasa. Dia berbalik dan mendapati Putri Ayuhinda sedang berdiri di dekat tangga dek sambil membawa sebuah nampan kayu berisi mangkuk sup ikan yang masih mengepulkan asap wangi.
Ayuhinda hari ini terlihat lebih segar. Gaun sutra merahnya sudah bersih, dan dia memakai celemek kain kecil yang membuatnya terlihat agak lucu. Wajah cantiknya memancarkan binar ceria, bertolak belakang dengan Rawa yang selalu kusut.
"Aku membuatkan ini untukmu sebagai ucapan terima kasih karena lenganmu sudah menyelamatkanku dari nenek gila kemarin," ucap Ayuhinda sambil menyodorkan nampan itu dengan gerakan yang agak kikuk, gengsinya sebagai putri kerajaan masih tersisa sedikit. "Cepat makan, jangan sampai kau pingsan sebelum kita sampai di Sumbawa. Kalau kau sakit, siapa yang mau melindungiku?"
Rawa menatap mangkuk sup itu, lalu beralih menatap wajah Ayuhinda dengan pandangan datar andalannya. ‘Sifat dasarnya tidak berubah, selalu bicara tanpa disaring. Tapi setidaknya, dia tahu cara memperlakukan logistik dengan benar,’ pikir Rawa dalam hati.
Tanpa banyak bicara, Rawa menerima nampan tersebut dan duduk bersila di atas lantai dek kapal. Saat dia mencicipi kuah supnya, alis Rawa agak terangkat. Rasanya ternyata sangat enak, perpaduan bumbu rempah yang pas untuk menghangatkan tubuh di tengah angin laut malam.
"Bagaimana? Enak kan? Masakanku tidak kalah dengan koki istana!" seru Ayuhinda bangga, langsung duduk di samping Rawa sambil memeluk lututnya, menatap lurus ke arah samudra luas yang mulai menggelap.
Rawa tidak menjawab, dia tetap fokus menghabiskan makannya dengan tenang. Namun di dalam keheningan itu, untuk pertama kalinya sejak kematian Guru Warka Palunglas, Rawa merasakan secercah kedamaian kecil yang asing mengalir di dalam dadanya.
---
### BAB 9: Desir Maut di Selat Alas (1.030 Kata)
Malam keempat perjalanan, kapal naga perak mulai memasuki wilayah Selat Alas—perairan sempit yang memisahkan Pulau Lombok dengan Pulau Sumbawa. Di tempat ini, arus laut terkenal sangat ganas dan dipenuhi dengan gugusan karang hitam yang tajam yang bisa merobek lambung kapal dalam sekejap jika nakhoda lengah.
Suasana di dalam kapal begitu sunyi. Sebagian besar awak kapal dan kuli angkut sudah terlelap di dalam kabin bawah, menyisakan beberapa penjaga yang berdiri terkantuk-kantuk di dekat obor haluan.
Namun, di dalam kamar kabin khusus, Rawa Metang mendadak membuka matanya. Dia yang sedang tidur dengan posisi bersandar pada dinding kayu langsung menegakkan tubuhnya. Sifat dasarnya yang penuh kewaspadaan menangkap sesuatu yang tidak beres dari arah luar kapal.
Bukan suara deburan ombak biasa, melainkan suara gesekan halus dari tali tambang yang dilemparkan ke pinggiran lambung kapal, disusul oleh langkah kaki yang sangat ringan yang mendarat di atas dek atas.
‘Ada penyusup. Jumlahnya sekitar lima orang, bergerak dari arah buritan,’ analisis Rawa fokus.
Dia segera menyambar Belati Ular Tatungkul-nya dan melangkah keluar dari kamar. Saat dia melewati koridor tengah, pintu kamar sebelah terbuka dan memperlihatkan Ayuhinda yang keluar dengan wajah mengantuk, memegangi bantal kecilnya.
"Rawa... ada apa? Kenapa berisik sekali di luar?" tanya Ayuhinda dengan nada suara yang manja dan serak karena baru bangun tidur.
Rawa langsung bergerak cepat, membekap mulut mungil Ayuhinda dengan tangan kanannya dan mendorong tubuh gadis itu kembali ke dalam kamar. "Diam. Jangan bersuara sedikit pun. Ada musuh yang naik ke atas kapal. Tetap di sini dan kunci pintunya dari dalam," bisik Rawa dengan nada yang sangat tegas di dekat telinga Ayuhinda, membuat sang putri langsung melotot kaget dan mengangguk patuh dengan wajah tegang.
Setelah memastikan Ayuhinda aman, Rawa melesat menuju dek atas seperti bayangan hitam yang tidak berwujud. Di bawah cahaya bulan sabit yang redup, Rawa melihat lima orang pria berpakaian serbahitam dengan topeng kain hitam sedang mengendap-endap mendekati kamar kapten kapal. Di lengan baju mereka, terdapat rajutan benang merah berbentuk gurita kecil—simbol dari Kelompok Perompak Sigung Laut, salah satu kaki tangan organisasi Hama Metak yang biasa menguasai jalur perairan timur.
‘Mereka mengincar manifes kapal atau mungkin... mereka mencari keberadaan Cincin Kurum milik Ayuhinda,’ batin Rawa tajam.
Rawa tidak memberikan kesempatan bagi para perompak itu untuk menyadari kehadirannya. Sifat berhati-hatinya membuat dia memilih untuk melumpuhkan mereka satu per satu dari balik kegelapan. Dengan langkah tanpa suara, Rawa mendekati perompak yang berdiri paling belakang.
*TAK!*
Satu totokan keras mendarat di tengkuk sang perompak, membuatnya langsung lemas dan jatuh pingsan sebelum sempat mengeluarkan suara teriakan. Empat perompak lainnya yang mendengar bunyi rebahan tubuh temannya langsung berbalik dengan waspada, mencabut pedang pendek mereka yang berlumur racun hijau.
"Siapa kau?!" desis pemimpin perompak dengan suara tertahan.
Rawa Metang melangkah maju dari balik bayangan tiang layar utama. Angin laut malam bertiup kencang, menyingkap tudung jubah cokelatnya dan memperlihatkan sepasang mata sawo matangnya yang memancarkan fokus mematikan. Tangan kanannya mencengkeram erat Belati Ular Tatungkul yang siap meminum darah pertamanya di tengah samudra.
"Orang yang akan mengirim kalian kembali ke dasar laut," jawab Rawa datar, memicu bentrokan berdarah di atas dek kapal yang sedang bergoyang hebat di tengah Selat Alas.
Comments